Tekno  

10 PTN Berkumpul di UGM Bahas Percepatan Kedaulatan Pangan di Indonesia

Selasa, 15 November 2022 – 12:55 WIB

VIVA Education – Sebanyak 10 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia berkumpul di UGM untuk membahas masalah pangan di Indonesia. Pembahasan pangan ditandai dengan peluncuran program Dana Pendamping Pangan Kampus Merdeka 2022, di Balai Senat UGM, Yogyakarta, Senin (14/11).

Ke-10 PTN tersebut adalah Universitas Syiah Kuala, Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Tanjungpura-Pontianak, Universitas Pattimura-Ambon, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gajah Mada, Universitas Mulawarman, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Mataram, dan Universitas Negeri Lampung.

Kampus Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.

Kampus Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.

Program Dana Pendamping Pangan Patriot sendiri bertujuan untuk mendukung upaya kedaulatan pangan yang dilakukan pemerintah melalui penelitian dan pendampingan masyarakat. Program ini merupakan amanah dari Ditjen Dikti kepada 10 Perguruan Tinggi dalam bentuk konsorsium.

Rektor IPB yang juga Ketua Dana Pendamping Konsorsium Pangan Patriot, Arif Satria mengatakan, Indonesia sangat berpeluang untuk swasembada pangan karena penyebab krisis pangan dunia saat ini adalah akibat tingginya harga gandum. Sementara itu, Indonesia memiliki berbagai potensi pengganti gandum seperti sorgum, jagung, singkong, ganyong, sukun hingga sagu yang memiliki potensi besar.

“Secara teknologi sudah selesai, kita bisa membuat beras dari sagu, beras dari jagung, beras dari sorgum, semuanya bisa. Tinggal bagaimana kita menghilirisasinya agar konsumsi kita meningkat dan mengurangi ketergantungan impor. Bagaimana kita membuat produk yang berkualitas baik, kita bisa menghemat devisa, memperluas lapangan kerja dan membangun kepercayaan masyarakat,” ujarnya di Balairung UGM.

Arif Satria mengatakan hingga saat ini baru 10 kampus yang tergabung dalam Konsorsium Patriot Pangan bersama Kemendikbud sebagai penyedia dana. Saat ini ada 10 proposal teknologi pangan yang akan diterapkan di masyarakat.

“10 perguruan tinggi ini menjadi koordinator di masing-masing wilayah karena diinisiasi dalam waktu yang mepet. Kita tunjuk perwakilan per daerah, seperti Gorontalo, Universitas Jember dan nanti tahun 2023 akan berkoordinasi di daerah masing-masing,” jelasnya.

Arif mengatakan kampus akan mengintervensi ekosistem pangan dari hulu hingga hilir melalui teknologi para dosen yang sedang melakukan penelitian. Para dosen berkecimpung dalam dunia peternakan, pangan, gizi, perikanan dengan berbagai aspek, baik produksi, pengolahan maupun konsumsi.

“Ada Gifood, mengatasi food waste yang masih cukup tinggi. Ini diselesaikan dengan cara yang cerdas. Perguruan tinggi siap berkolaborasi memperkuat solusi masalah pangan. Pemerintah dan perguruan tinggi tidak bisa sendirian,” jelas Arif.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang SDM dan Keuangan, Supriyadi mengatakan ketahanan pangan dan kedaulatan pangan merupakan metodologi sistem yang dapat menjamin kecukupan pangan rakyat.

Supriyadi mengatakan, pengetahuan tentang pengelolaan masalah pangan tidak hanya pada masalah teknis pengetahuan pangan, tetapi juga pada keterbukaan ilmuwan untuk bekerja sama antar dan lintas disiplin untuk memastikan semua solusi yang ditawarkan bersifat komprehensif.

“Tentunya mencakup semua aspek fisik, sosial, budaya dan ekonomi, dan untuk itu UGM saat ini menghadirkan 8 sub program yang mewakili sub aspek kedaulatan pangan,” kata Supriyadi.

Supriyadi merinci delapan sub program yakni ketersediaan pangan yang cukup, baik yang berasal dari tumbuhan maupun hewan. Keterjangkauan pangan, kata Supriyadi, harus didukung dengan teknologi terkini untuk menjamin ketersediaan pangan dengan kualitas terbaik dan dapat diakses setiap saat dalam jangka waktu yang cukup hingga tersedia pasokan berikutnya melalui subprogram.

“Di sisi lain, sistem yang menjamin pemanfaatan utilitas pangan sehingga pangan dengan kualitas terbaik dapat diterima oleh semua orang, dengan mempertimbangkan pengelolaan pengelolaan pangan dan normalisasi limbah yang timbul dari pengelolaan pangan serta dukungan untuk teknologi pangan, stabilitas dan keberlanjutan pangan, serta pemberdayaan masyarakat melalui sub program,” tutup Supriyadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.