Tekno  

Apakah Anda memegang saham SICO atau SDMU? Kemarin adalah yang paling licin!

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup kembali di zona merah pada perdagangan Kamis (13/10/2022) kemarin. Indeks ditutup turun 0,41% untuk memposisikan 6.880,63. IHSG kini berada di level psikologis 6.800 dan telah terkoreksi selama lima hari berturut-turut sejak Jumat lalu.

Pada awal sesi perdagangan pertama kemarin dibuka naik tipis 0,04% di posisi 6.912,19. Selang 10 menit kemudian, indeks masih terpantau menguat 0,12% ke 6.917.83.

Namun, pada pukul 09:20 WIB, IHSG sedikit melemah 0,02% menjadi 6.907,66. Kemudian sekitar pukul 10.00 WIB, IHSG berhasil bangkit kembali menyentuh zona hijau dan juga berhasil menyentuh daily high di 6.933,71.

Pada sesi perdagangan kedua, IHSG terpantau masih hijau. Namun perlahan penguatan tersebut terpangkas dan pada akhirnya gagal bertahan di zona hijau pada akhir sesi perdagangan II.

Nilai transaksi indeks pada perdagangan kemarin mencapai sekitar Rp. 11 triliun, melibatkan 22 miliar saham yang berpindah tangan 1,1 juta kali. Sebanyak 203 saham naik, 340 saham turun, dan 147 saham stagnan.

Investor asing melakukan net sell (penjualan bersih) sebesar Rp 316,99 miliar di pasar reguler pada perdagangan kemarin.

Saat IHSG terkoreksi hingga lima hari berturut-turut, beberapa saham masuk peringkat pemenang teratas. Berikut sepuluh saham yang menjadi pemenang teratas dalam perdagangan Kamis lalu.




Top Gainers Saham Saham

Saham emiten di sektor kompresor yakni PT Sigma Energy Compressindo Tbk (SICO) memimpin berturut-turut pemenang teratas pada perdagangan kemarin. Saham SICO ditutup naik 20,65% ke posisi Rp 222/saham.

Nilai transaksi saham SICO pada perdagangan Kamis mencapai Rp 28,3 miliar dengan volume transaksi sebanyak 137,06 juta lembar saham yang diperdagangkan. Asing mengumpulkan Rp 298,53 juta di pasar reguler.

Jika melihat data perdagangan, sejak diperdagangkan pada 3 Oktober hingga kemarin, saham SICO telah menguat 5 kali dan melemah 4 kali.

Dalam seminggu terakhir, saham SICO melonjak 21,31% dan dalam sebulan terakhir, saham SICO melonjak hingga 19,35%.

Jika dilihat dari kinerja keuangannya pada semester I 2022, saham yang tercatat di bursa pada 8 April 2022 itu berhasil mencatatkan kinerja yang impresif dengan mencatatkan pertumbuhan yang signifikan.

Laba bersih SICO pada semester I 2022 mencapai Rp 4,3 miliar, naik 70% dari periode yang sama tahun lalu Rp 6,4 miliar. Ini merupakan pencapaian yang membanggakan bagi emiten yang masih pendatang baru di bursa.

Peningkatan laba bersih selama enam bulan pertama tahun 2022 dikontribusikan oleh berbagai program dan strategi perusahaan dalam menerapkan efisiensi biaya dan pemasaran yang efektif.

Hal ini dilakukan seiring dengan pemulihan kondisi perekonomian nasional, sehingga meningkatkan permintaan layanan SICO.

Kontribusi pendapatan terbesar perseroan berasal dari sewa kompresor GasJack ke industri minyak dan gas dengan kontribusi 68%. Kemudian disusul pendapatan dari penjualan BBM sebesar 30% dan jasa lainnya sebesar 2%.

Sebagai informasi, SICO merupakan perusahaan yang bergerak di bidang usaha jasa penyewaan peralatan untuk monetisasi minyak dan gas bumi dengan menggunakan teknologi kompresi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

SICO dilaporkan telah berkontribusi dalam pengurangan emisi gas rumah kaca dengan memotong hingga 1.500 MMSCF gas per tahun senilai US$ 12,5 juta.

Selain saham SICO, ada juga emiten saham pengangkutan bahan kimia beracun dan berbahaya, serta pengangkutan minyak mentah, yakni PT Sidomulyo Selaras Tbk (SDMU) yang harga sahamnya melonjak 20,27% menjadi Rp 89/saham.

Nilai transaksi saham SDMU pada perdagangan kemarin mencapai Rp 36,16 miliar dengan volume transaksi 405,26 juta lembar saham yang diperdagangkan. Namun, pihak asing melepasnya seharga Rp. 4 juta di pasar reguler.

Menurut data perdagangan, sejak perdagangan 3 Oktober hingga kemarin, saham SDMU telah menguat 5 kali, melemah 2 kali, dan stagnan 2 kali.

Dalam sepekan terakhir, saham SDMU melonjak menjadi 43,55% dan dalam sebulan terakhir, saham SDMU juga melonjak hingga 34,85%.

Belum diketahui kenaikan signifikan saham SDMU, namun jika melihat kinerja keuangannya pada semester I 2022, SDMU mampu membukukan laba bersih sebesar Rp. 2,3 miliar, meningkat dari periode sebelumnya yang mencatat rugi bersih sebesar Rp. 12,3 miliar.

Di sisi lain, SDMU menargetkan pendapatan di kisaran Rp 100 miliar atau lebih pada akhir tahun 2022. Hal ini seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian Indonesia. Angka ini sekitar 20,98% lebih tinggi dari realisasi laba bersih perseroan sepanjang 2021 sebesar Rp 82,62 miliar.

Tahun ini, perusahaan berencana meningkatkan pelayanan kepada pelanggan eksisting untuk mengantisipasi peningkatan kuantitas yang akan dilakukan pelanggan. Perseroan juga akan menjaga tingkat efisiensi dalam proses kerja perusahaan dan menambah pelanggan baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published.