Tekno  

Aplikasi SCR, Teknologi Terbaru Kurangi Emisi PLTU

Senin, 14 November 2022 | 10:16 WIB

| Penulis :

Editor : Beruntung S

Jakarta, InfoPublik – Upaya menemukan teknologi yang tepat untuk menurunkan emisi dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) terus digaungkan sejumlah pihak. Teknologi yang ada terus berkembang, dan semakin mampu menurunkan emisi secara signifikan dari PLTU.

Teknologi Selective Catalytic Reduction (SCR) sejauh ini merupakan teknologi paling andal untuk mengurangi emisi dan polusi udara dari pembangkit listrik.

Menurut Executive National Executive Energy and Urban Campaign Manager Walhi, Dwi Sawung, dari beberapa teknologi untuk mengurangi polusi udara, SCR bisa dikatakan terdepan.

“SCR itu salah satu yang terbaru, sebenarnya banyak. Jadi, itu (SCR) fungsinya mereduksi nitrogen oksida (NOx),” kata Dwi dalam keterangan tertulis, Minggu (13/11/2022).

Dengan SCR, NOx akan berkurang. Misalnya dari 100 ke atas, bisa turun menjadi 50 ke bawah. Dari angka tersebut, SCR dinilai mampu mereduksi NOx yang jumlahnya relatif besar.

Dwi menegaskan, penerapan SCR di PLTU sangat dibutuhkan saat ini. Alasannya, karena polusi udara di bumi sudah tinggi.

Di negara-negara maju seperti Jerman, Amerika Serikat, China dan Jepang, teknologi SCR sudah diterapkan sejak lama.

Sementara Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawa mengatakan, penerapan teknologi SCR atau Carbon Capture (CCUS) bagi banyak orang belum dianggap sebagai energi hijau. Teknologi ini, lanjutnya, merupakan pengembangan teknologi dalam rangka pengurangan gas karbon.

“Namun mengingat pembangkit membutuhkan dana yang besar untuk pensiun dini, maka dengan menggunakan teknologi yang dapat mengurangi karbon, menurut saya bagus. Apalagi tahun 2060 kita menuju NZE dimana energi fosil sebagai energi primer dapat dikurangi bahkan dihilangkan. dan diganti dengan EBT,” katanya.

Namun, menurutnya, kelemahan dari teknologi ini adalah investasi yang besar. Namun jika dibandingkan dengan pensiun dini untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), teknologi ini masih jauh lebih murah. Mamit mengatakan, teknologi SCR bisa diandalkan menuju green energy yang dicanangkan pemerintah.

Menggunakan Amonia Hijau

Di negara-negara maju seperti Jerman, Amerika Serikat, China dan Jepang, teknologi SCR sudah mulai diterapkan.

Teknologi SCR di negara maju juga digunakan untuk pembangkit listrik yang menggunakan batubara bersama amonia. Selective Catalytic Reduction adalah teknologi yang telah terbukti untuk mereduksi nitrogen oksida dan nitrogen dioksida dengan mengubah molekulnya menjadi air dan nitrogen bebas.

Menggunakan Selective Catalytic Reduction di pembangkit listrik berbahan bakar batu bara bersama dengan pembakar Nox rendah akan secara signifikan menurunkan kadar nitrogen oksida dan nitrogen dioksida dan oleh karena itu akan membuka kemungkinan pembakaran bersama amonia hijau yang jauh lebih banyak daripada batu bara dalam tenaga batu bara tanaman. batubara.

Potensi peningkatan emisi NOx dari pembakaran amonia dapat diminimalkan melalui teknologi SCR yang mampu menurunkan konsentrasi NOx dalam gas buang dari sekitar 1000 ppm menjadi kurang dari 10 ppm.

Bagi Indonesia yang sedang menggalakkan transisi energi terbarukan, amoniak biru dan hijau dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju transisi energi terbarukan, sebagai sumber energi bersih alternatif untuk pembangkit listrik tenaga batu bara.

Amonia adalah bahan kimia alami yang ditemukan di udara, air, tanaman, dan hewan. Bahan kimia ini terdiri dari atom nitrogen dan hidrogen, dan prosesnya di alam terjadi secara alami melalui siklus nitrogen.

Di sisi lain, amonia juga diproduksi sebagai bahan sintetis. Belakangan, istilah “hijau” juga dilekatkan pada amonia yang menggunakan 100 persen bahan terbarukan dan bebas karbon. Salah satu cara membuat ‘amonia hijau’ adalah dengan menggunakan hidrogen dari elektrolisis air dan nitrogen yang dipisahkan dari udara.

Selama ini amoniak memiliki peranan penting terutama dalam industri pertanian untuk produksi pupuk. Selain itu, amonia juga digunakan sebagai sumber energi untuk transportasi dan dapat digunakan dalam produksi poliamida, asam nitrat, nilon, obat-obatan, bahan peledak, zat pendingin, pewarna, cairan pembersih, dan bahan kimia industri lainnya.

Dari sudut pendeteksian bau, amonia memiliki bau khas yang dapat memberikan peringatan dini yang tak ternilai akan potensi emisi berbahaya dan fitur yang tidak ditemukan dalam hidrogen murni.

Terakhir, keunikan amoniak sebagai bahan bakar adalah tidak mengandung karbon. Artinya, pembakaran tersebut tidak menghasilkan emisi karbondioksida. Ini karena satu-satunya produk sampingan amonia adalah air dan nitrogen.

Keterangan Foto: PLN


Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan/atau menyalin konten ini dengan mengutip sumbernya InfoPublik.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.