Tekno  

Bagaimana NASA Menghasilkan Foto Luar Angkasa yang Menakjubkan Menggunakan Photoshop?

Jakarta, CNN Indonesia

Administrasi Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) sering menghasilkan foto luar angkasa dan galaksi yang spektakuler. Bagaimana foto-foto itu dibuat?

Mengutip The Verge, Alyssa Pagan merupakan sosok yang memiliki andil besar dalam pembuatan foto-foto tersebut. Ia adalah seorang science visual developer di Space Telescope Science Institute yang mengolah dan menerjemahkan data dari teleskop agar dapat dilihat sekaligus indah.

Salah satu foto yang diolah Pagan adalah foto Nebula Carina yang dihasilkan oleh teleskop James Webb (JWST). Pagan menyebut karyanya sebagai ‘kolaborasi’ data, prinsip-prinsip estetika, yang dibangun di atas studi ilmiah selama puluhan tahun, dan selera subjektif.

Kolaborasi semacam itu sangat dibutuhkan karena beberapa alasan. Selain jarak yang sangat jauh antara teleskop Webb dengan objek yang diamatinya, data yang dihasilkan teleskop juga berupa spektrum inframerah.

Ini karena spektrum inframerah tidak terlihat. Akibatnya, ilmuwan seperti Pagan harus memilih cara menerjemahkan spektrum menjadi sesuatu yang dapat dilihat.

Satu hal yang menantang Pagan adalah pewarnaan foto. Teleskop James Web menangkap banyak eksposur dari data spektrum skala kecil.

Itu berarti, data mengandung sangat sedikit gelombang dalam spektrum yang terkait dengan keberadaan unsur-unsur tertentu seperti hidrogen, belerang, dan oksigen. Data tersebut kemudian diwarnai menurut prinsip yang disebut pengaturan kromatik.

Gelombang yang lebih pendek seperti oksigen dipasangkan dengan gelombang yang lebih pendek seperti biru dll. Selanjutnya, warna-warna tersebut dilapis untuk membentuk dasar foto.

Namun, karena pita hidrogen dan belerang sesuai dengan bayangan merah, para ahli membedakannya dengan memberi hidrogen filter yang lebih kuning. Ini berguna untuk menghasilkan detail yang lebih jelas dalam produk akhir.

Foto-foto ini biasanya disebut sebagai foto ‘salah warna’. Namun, Pagan menegaskan warna masih merupakan representasi dari data yang sebenarnya.

Dengan pengetahuan yang benar, orang bisa membacanya seperti peta. Contohnya adalah foto Nebula Carina yang menunjukkan bagian merah didominasi oleh hidrogen dan belerang di bagian atas, sedangkan bagian biru di bagian atas didominasi oleh oksigen.

Setelah fase itu, pewarnaan lebih didasarkan pada selera pribadi. Untuk Pagan, ia mungkin menyesuaikan palet warnanya sedikit atau menurunkan spektrum, membuat warna biru lebih keunguan atau sebaliknya.

Pagan juga terkadang ‘memainkan’ kontras agar warna pelengkapnya terlihat lebih mencolok. “Saya senang membuat foto lebih magis dan halus,” kata Pagan.

Berbagai Filter

Di sisi lain, mengutip Digital Trends, proses pewarnaan foto luar angkasa melibatkan alat yang disebut roda filter. itu adalah kumpulan bahan yang berbeda yang memungkinkan gelombang cahaya yang berbeda untuk melewatinya.

Para ilmuwan memilih instrumen dan gelombang apa yang akan mereka gunakan untuk pengamatan mereka. Kemudian, roda filter berputar untuk menempatkan elemen yang merespons di depan sensor instrumen.

Ketika teleskop James Webb menemukan target, pertama-tama ia akan menggunakan satu filter, lalu filter lain, dan seterusnya jika diperlukan. Untuk foto pertama galaksi terjauh Webb, misalnya, teleskop membutuhkan enam filter, masing-masing menghasilkan gambar hitam-putih.

Setiap filter digunakan untuk paparan dua jam, meningkatkan total waktu pengamatan sekitar 12 jam. Saat dikumpulkan, data dikirim ke tim instrumen untuk pra-pemrosesan.

Tim kemudian akan menerima berbagai foto tergantung pada berapa banyak filter yang telah dipilih para ilmuwan. Kemudian, mereka menggabungkannya menjadi satu foto.

Untuk pekerjaan itu, tim akan menggabungkan perangkat lunak pengedit foto seperti Adobe Photoshop dan yang lebih khusus ruang seperti PixInsight.

“Menggabungkan foto-foto ini dalam RGB (Merah, Hijau, Biru) menghasilkan gambar yang paling alami, karena sifat mata kita dan bagaimana mereka melihat cahaya,” kata Joe DePasquale, yang juga bekerja di Space Telescope Science Institute.

“Kami memiliki sel di mata kami yang merespons cahaya merah, hijau, dan biru. Jadi, mata kami dirancang untuk menafsirkan dunia seperti itu,” katanya.

[Gambas:Video CNN]

(lth/lth)

[Gambas:Video CNN]


Leave a Reply

Your email address will not be published.