Tekno  

Bangga menjadi guru

Jakarta

Banggalah menjadi guru karena kemuliaan manusia dilihat dari kegunaannya bagi manusia lainnya. Sosok guru, meski sering diabaikan, selalu bermanfaat bagi manusia lainnya. Profesi guru menjadi mulia karena setiap perkataan dan perbuatan di depan anak didik menjadi mutiara bagi generasi penerus bangsa.

Makanya, jangan heran kalau gurunya sering disebut singkatan –menggunakan bahasa Jawa– digugu dan ditiru. Artinya, guru merupakan tempat bagi siswa dan masyarakat untuk meneladani sosok manusia dalam segala aspek kehidupan, baik melalui perkataan maupun perbuatan. Guru yang begitu mulia, sehingga menjadi bagian terpenting dalam peradaban manusia dan bangsa.

Profesi Mulia

Institut Penelitian Sosial dan Ekonomi Inggris bernama Varkey Foundation melakukan survei pada tahun 2018 terhadap seribu orang di setiap negara, dan pertanyaan yang diajukan adalah seputar pandangan mereka tentang keluhuran profesi guru dan keinginan untuk mengarahkan anak-anak mereka menjadi guru. . Alhasil, China terpilih sebagai negara yang paling memuliakan guru.

Kini, China tumbuh menjadi raksasa dunia di berbagai bidang, seperti ekonomi, budaya, teknologi, dan olahraga. Mutiara Mutiara S Buck dalam Bumi yang Baik mengatakan bahwa peradaban China dipengaruhi oleh guru yang dengan setia mengajarkan moral dan pendidikan yang baik yang diajarkan oleh guru bangsa China, Kong Fuzi. Guru di sana sangat dihormati dan dihargai seperti pahlawan nasional.

Tidak berbeda dengan China, Jepang juga merupakan negara yang memberikan kedudukan terhormat kepada guru. Di tengah puing-puing Perang Dunia II, Kaisar Hirohito (1901-1989) berkata, “Berapa guru yang masih hidup?” Hirohita percaya bahwa kebangkitan Jepang berada di pundak sang guru. Setelah perang usai, guru menjadi garda terdepan dalam mengembalikan martabat dan kejayaan bangsa Jepang. Kini, Jepang telah tumbuh menjadi bangsa yang berkelas di dunia.

Bom atom boleh saja memporak-porandakan Jepang, tapi tidak bisa menghancurkan semangat juang para guru untuk mengembalikan kejayaan bangsa. Hingga saat ini posisi guru sangat tinggi dan menjadi profesi paling mulia di Jepang. Serial kartun Doraemon bisa menjadi contoh bagaimana Jepang memuliakan guru. Dalam film tersebut, Doraemon menjadi guru yang sangat ditakuti; seorang murid dilarang memandang wajah gurunya ketika ditegur, ia akan terus menunduk sebagai ungkapan penyesalan.

Bukan hanya negara maju saja yang menjadikan guru sebagai sosok yang mulia. Ajaran Islam sangat mengagungkan profesi guru. Penghargaan bagi sosok guru langsung berasal dari Tuhan yang menyebut guru sebagai pewaris sifat dan nama Tuhan, yaitu rabbani. Coba saja baca suratnya Ali Imran ayat 79. Tuhan dengan bangga mengkategorikan generasi rabbani adalah orang yang memahami kitab (ilmu) dan mau mengajarkannya kepada orang lain (guru).

Ali bin Abi Thalib pernah berpesan, “Barangsiapa yang pernah mengajariku satu huruf saja, maka aku siap menjadi budaknya.” Guru di era Islam awal sangat dihargai oleh generasi berikutnya. Para sahabat senior yang mendapat pendidikan langsung dari Nabi Muhammad memiliki kedudukan yang tinggi di mata para sahabat lainnya. Zaid bin Thabit, seorang sahabat yang langsung belajar Alquran dari Nabi SAW yang dimuliakan di antara para sahabat lainnya. Dikisahkan dalam Kitab Hayat Sahabat, ketika Ibnu Abbas sedang menunggang kuda dia bertemu Zaid, dia langsung turun dan mengajak Zaid menaiki kudanya, kemudian Ibnu Abas sendiri yang menuntunnya.

Betapa mulianya kedudukan seorang guru sampai-sampai ilmu sekecil apapun yang didapat dari seorang guru adalah anugerah berharga yang tidak bisa dinilai dengan batu permata.

Menghormati Guru

Indonesia adalah negara yang memuliakan guru. Hasil riset Varkey Foundation menempatkan Indonesia di posisi kelima dari 35 negara yang disurvei. Padahal, meski gaji guru di Indonesia termasuk yang paling rendah di dunia, bukan berarti kejayaan mereka di mata masyarakat ikut hancur.

Di Indonesia, negara secara simbolis memberikan penghormatan kepada para guru dengan menetapkan 25 November sebagai Hari Guru. Pencanangan guru sebagai lapangan kerja profesional yang dicanangkan pada 14 Desember 2004 juga merupakan indikator komitmen negara untuk menghormati guru. Selanjutnya, negara mempertegas status guru menjadi pekerjaan profesional dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD).

Sejak saat itu, mengajar menjadi bidang pekerjaan profesional, oleh karena itu negara memberikan imbalan yang layak bagi jasa profesi guru melalui tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok dan tunjangan lain yang melekat pada gaji tersebut.

Negara juga menjamin perlindungan bagi guru. Pasal 39 ayat 3 UUGD menegaskan bahwa negara melindungi guru dari tindakan kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi atau perlakuan tidak adil dari peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi atau pihak lain.

Meski masih simpang siur, kabar perbaikan kesejahteraan guru datang melalui Perubahan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas). Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makarim menyampaikan tiga argumentasi terkait pentingnya RUU Sisdiknas. Pertama, guru yang telah lulus sertifikasi tetap berhak mendapatkan tunjangan profesi dan/atau tunjangan khusus sepanjang memenuhi persyaratan.

Kedua, sertifikat pendidik dari Pendidikan Profesi Guru (PPG) merupakan prasyarat untuk menjadi guru atau calon guru baru dan bukan prasyarat untuk memberikan penghasilan yang layak bagi guru yang sudah mengajar. Ketiga, pemerintah ingin mengakui pendidik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pendidik di Pendidikan Kesetaraan, dan pendidik di pesantren formal. Mereka dapat diakui sebagai guru dan menerima tunjangan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Kita harus berprasangka baik bahwa RUU itu akan melengkapi kesejahteraan guru di Indonesia. Tidak mengurangi atau meniadakan tunjangan profesi guru yang telah sedikit melonggarkan “ikat pinggang” guru selama beberapa tahun. Namun memuliakan guru harus dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan guru. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pendidik, tetapi juga menjadi agen perubahan bangsa serta simbol status sosial dan ekonomi masyarakat.

Guru tidak adil digugu dan ditiru karena pengetahuan mereka. Ia harus dihormati karena status sosial dan ekonominya. Negara yang memuliakan guru wajib meningkatkan kesejahteraannya. Selamat Hari Guru, dan tetap bangga menjadi seorang guru!

Arfanda Siregar dosen Politeknik Negeri Medan, kepala Islamic Center Ali Bin Abi Tholib, doktor Pendidikan Teknologi dan Vokasi

(mmu/mmu)

Leave a Reply

Your email address will not be published.