Tekno  

Bukan Startup, Analis Merekomendasikan Saham Lain

JAKARTA – Analis Riset Artha Sekuritas Indonesia, Dennies Christopher, tidak merekomendasikan saham sektor memulai sebagai pilihan bagi investor untuk mengamati.

Sebab, menurut dia, rata-rata IPO memulai harga selalu jauh di atas penilaian. Namun, kinerja keuangan perusahaan justru mencatatkan kerugian dan utang yang tinggi. Belum lagi, ketidakpastian pertumbuhan di sektor ini.

“Yang pasti rata-rata IPO memulai harga selalu jauh di atas penilaian. Di sisi lain, kinerja keuangan selalu mencatat kerugian dan utang yang tinggi, dengan pertumbuhan yang tidak pasti. Jadi, bagi saya, itu tidak terlalu menarik,” kata Dennies berita validSelasa (18/10).

Dennies juga mengatakan, pertimbangan investor untuk membeli saham di sektor startup atau tidak bukan karena berita Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang saat ini melanda sejumlah startup.

Melainkan, lanjutnya, rekam jejak atau rekam jejak emiten memulai yang sebelumnya tercatat di bursa, akan menjadi pertimbangan investor.

“Saya pikir apa yang akan membuatnya sulit adalah rekam jejak dari emiten-emiten startup ini setelah IPO, seperti BUKA (PT Bukalapak.com Tbk) dan GOTO (GoTo Group),” jelasnya.

Mengenai resesi global yang akan terjadi ke depan, Dennies mengatakan bahwa resesi itu sendiri tidak bisa dihindari.

Untuk saat ini, Dennis menyarankan investor untuk melihat saham lain di luar sektor tersebut memulai. Dia merekomendasikan sektor batu bara, kelapa sawit, dan media sebagai opsi.

“Saya kira sektor saham masih oke, batu bara, sawit, media,” katanya.

Senada dengan Dennies, Kepala Riset Samuel Sekuritas, Suria Dharma mengatakan, untuk berita validSelasa (18/10) bahwa secara umum perusahaan memulai atau teknologi masih mencatat kerugian atau kerugian bersih.

Oleh karena itu, Suria juga merekomendasikan saham di sektor lain di luar teknologi atau teknologi memulai.

“Sebenarnya 4 Bank Besar akan segera merilis laporan keuangannya dan saya proyeksikan tahun ini laba bersihmiliknya tinggi sepanjang masa. Tapi karena ada tekanan dari kenaikan agresif The Fed, sahamnya tidak ke mana-mana. Jadi saat ini, cenderung lebih banyak melihat saham kapal kedua ada rencana aksi korporasi,” kata Suria.

Blibli E-IPO
Perusahaan terkait perdagangan elektronik Milik Grup Djarum, Blibli yang akan segera tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), Suria menilai Blibli masih kalah bersaing dengan kompetitor lain, seperti Tokopedia, Shopee, dan Bukalapak.

Namun, setelah masuk ke Tiket.com sebelum IPO, Suria optimistis Tiket.com bisa bersaing dengan Traveloka. Apalagi Blibli mendapat dukungan dari sponsor yaitu Grup Djarum.

“Jika pasar, Blibli masih kalah dari Tokopedia atau Shopee atau bahkan Bukalapak. Namun sebelum IPO, mereka (Blibli.red) memasang Tiket.com di sana. Tiket.com oke, bersaing dengan Traveloka. Dan mereka didukung oleh jaringan Grup Djarum yang kuat,” jelasnya.

Lebih lanjut, dikutip dari laman Instagram resmi Samuel Sekuritas, @samuelsekuritasindonesia, PT Global Digital Niaga Tbk atau dikenal dengan Blibli (BELI) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang layanan teknologi dan aplikasi online.

Perusahaan ini didirikan pada tahun 2011 dan merupakan pelopor ekosistem belanja dan gaya hidup saluran serba ada di Indonesia.

BELI baru saja mengumumkan pembentukan Blibli Tiket, sebuah ekosistem saluran serba ada terdiri dari Blibli, Tiket.com, dan Ranch Market.

BELI saat ini memiliki 70,6% dari RANC (PT Supra Boga Lestari yang memiliki Ranch Market dan Farmers Market) dan 99,9% dari Tiket.com (PT Global Tiket Network).

Blibli menyediakan beberapa layanan, antara lain layanan online melalui email perdagangan elektroniktoko offline Blibli InStore untuk belanja langsung, Click & Collect yang menyediakan layanan belanja on line dan offline sekaligus dengan self pick up, serta pengiriman langsung dengan Blibli Express Services (BES).

Blibli (kode saham BELI) berencana melepas 177.712.059 lot saham baru dalam IPO-nya. Saat ini BELI sedang dalam proses bangunan Buku dengan kisaran harga Rp410-Rp460 per saham.

Kepemilikan saham publik BEI diperkirakan mencapai 15%, yakni Rp7,3 triliun-Rp8,2 triliun. kapitalisasi pasar dari BUY berpotensi mencapai Rp48,6 triliun-Rp54,5 triliun.

Penilaian Blibli yang diukur dengan Nilai Perusahaan per Penjualan mencapai kisaran angka 5x – 5,57x. Profitabilitas Blibli diukur dengan Laba Kotor Sebelum Diskon (GPBD)-ke-TPV mencapai 3,8%.

Pada tahun 2021, penjualan Blibli mengalami peningkatan sebesar 106% yoy dan Nilai Pemrosesan Total (TPV) perseroan juga meningkat sebesar 45% yoy. Dua hal ini membuat Pendapatan-ke-TPV Blibli pada tahun 2021 menyentuh 27,34%.

Leave a Reply

Your email address will not be published.