Tekno  

Bupati Ikfina Luncurkan CSIRT | Radar Mojokerto

Lindungi Sistem Informasi dan Keamanan Data

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati secara resmi meluncurkan Tim Respon Insiden Keamanan Komputer Kabupaten Mojokerto (MojokertoKab-CSIRT). Peluncuran tersebut dilakukan untuk menyelidiki dan melindungi sistem informasi atau keamanan data atas insiden keamanan siber yang terjadi di organisasi perangkat regional.

Selain itu, sebagai pencegahan dengan melakukan deteksi ancaman, perencanaan mitigasi dan tujuan arsitektur keamanan informasi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Mojokerto. Peluncuran CSIRT hasil kerjasama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dilakukan langsung oleh Bupati Ikfina bersama Direktur Keamanan dan Sandi Siber Teknologi Informasi dan Komunikasi, Media dan Perhubungan BSSN Rinaldy, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur Hudiyono, Asisten 3 bidang administrasi. Sekretariat Jenderal Kabupaten Mojokerto Siswandi, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Mojokerto Ardi Sepdianto.

Bupati Mojokerto Ikfina mengatakan peluncuran Tim MojokertoKab-CSIRT diadakan untuk memberikan layanan keamanan siber untuk aset dan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi sebagai salah satu pilar penanganan kejahatan siber.
Sistem ini juga dapat digunakan oleh kepala daerah hingga kepala seksi.

”Mohon waspada jika semua proses bisnis melalui dunia digital memiliki ancaman. Kita harus hati-hati jangan sampai lengah, semua yang kita usahakan memang harus diprioritaskan. Terutama terkait kemampuannya dalam merespon pesatnya perkembangan ilmu teknologi komunikasi,” jelas Ikfina, di Graha Maja Tama, Pemerintah Kabupaten Mojokerto, Kamis (13/10).

Serangan siber tentunya menimbulkan ancaman yang merugikan bagi sistem dan jaringan serta pengguna sistem elektronik. ”Manipulasi, pencurian dan penyerangan data dan informasi juga akan mempengaruhi pencapaian dan kinerja organisasi,” tambahnya.

Orang nomor satu di lingkungan Pemkab Mojokerto ini sangat mengapresiasi dan menyambut baik pembentukan Tim CSIRT Kab Mojokerto. Ia berharap pembentukan tim ini dapat terus berkolaborasi, bersinergi dan berbagi informasi dengan seluruh pemangku kepentingan. Terutama dalam menangani dan memulihkan insiden siber.

Sehingga dapat menghasilkan dunia maya yang aman dan terpercaya untuk mewujudkan reformasi birokrasi, serta meningkatkan kualitas pelayanan publik di Kabupaten Mojokerto. “Pesan saya kepada tim dan agen cyber incident di masing-masing perangkat daerah agar dapat menjalankan tugasnya sesuai fungsinya dan melakukan pemantauan keamanan informasinya masing-masing,” ujarnya.

Ikfina menegaskan CSIRT harus mampu menjalankan peran koordinasi, responsif dan proaktif dalam memastikan ketersediaan, integritas dan kerahasiaan data dan informasi yang akan digunakan dalam pengambilan kebijakan di Pemerintah Kabupaten Mojokerto.

“Saya berharap tim respon insiden siber Kabupaten Mojokerto terus mendapat dukungan penuh dari BSSN untuk meningkatkan kualitas sumber daya tim untuk mendukung keamanan siber dan transformasi digital dalam penyelenggaraan Pemerintah Kabupaten Mojokerto yang berkualitas, amanah, dan dilaksanakan secara proporsional dan bermartabat. integritas oleh agen-agen yang mumpuni, dan menguasai teknologi informasi kelas dunia,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Keamanan Siber dan Sandi Teknologi Informasi dan Komunikasi, Media dan Transportasi, Deputi IV BSSN, Rinaldy mengatakan, Kabupaten Mojokerto merupakan daerah ke-17 yang mendaftarkan CSIRT ke BSSN dan meluncurkan CSIRT dari total 514 kabupaten kota. . di Indonesia. Pembentukan CSIRT merupakan salah satu proyek prioritas strategis sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang RPJMN 2020-2024.

”Pada 2020-2024 formasi CSIRT ditargetkan menjadi 131 CSIRT. Pada tahun 2022 akan dibentuk 32 CSIRT yang tersebar di kementerian, lembaga, dan daerah. Dan Kabupaten Mojokerto terpilih sebagai pilot project CSIRT di Provinsi Jawa Timur,” jelasnya.

Kepala Diskominfo Kabupaten Mojokerto, Ardi Sepdianto, menegaskan dasar peluncuran CSIRT karena banyaknya serangan siber di Indonesia. Menurut situs Honeynet BSSN, dari Januari 2022 hingga September 2022, ada sekitar 149 juta serangan siber yang terjadi di Indonesia. ”Sebab, di Jawa Timur saja jumlah serangan siber mencapai 12 juta serangan,” ujarnya.

Ardi menjelaskan, di Kabupaten Mojokerto masih ada beberapa persoalan krusial. Antara lain, kemampuan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang belum optimal sehingga dapat menimbulkan kerentanan dan ancaman siber. Meliputi aspek kerahasiaan, integritas, ketersediaan, non-penyangkalan, otentikasi, akuntabilitas, dan keandalan. ”Jadi perlu ada tim yang bisa mengedukasi, membantu bahkan menyelesaikan masalah cyber yang terjadi,” jelasnya.

Selain itu, dalam pengoperasian sistem elektronik selama ini belum dibarengi dengan sistem keamanan yang meliputi prosedur dan sistem pencegahan. Termasuk, penanggulangan dan pemulihan terhadap ancaman dan serangan yang menimbulkan gangguan, kegagalan, dan kerugian sehingga gangguan yang terjadi pada perangkat daerah dapat diminimalisir. ”Dan terakhir, tidak ada sistem penanggulangan insiden untuk memastikan sistem elektronik dapat beroperasi terus menerus,” ujarnya. (ori/ron)

Leave a Reply

Your email address will not be published.