Tekno  

Dorong Corporate Cybersecurity Awareness, Virtus Gelar Showcase di Surabaya

SURABAYA – Setelah dua tahun absen akibat pandemi Covid-19, PT Virtus Technology Indonesia (Virtus), penyedia solusi infrastruktur digital dan anak perusahaan CTI Group, kembali menggelar Virtus Showcase 2022 di Surabaya.

Erwin Kuncoro, Presiden Direktur Virtus Technology Indonesia, menilai Virtus Showcase 2022 telah dinantikan oleh para pebisnis Surabaya. Hal ini disebabkan maraknya berbagai isu keamanan siber setelah Bjorka membeberkan data pribadi pelanggan sejumlah perusahaan.

Para pelaku serangan siber semakin canggih dan menjadi ancaman bagi pelaku bisnis. Selain infrastruktur IT dan digital yang menjadi target utama, email phising juga banyak digunakan oleh hacker untuk melumpuhkan seluruh perusahaan.

“Melalui Virtus Showcase ini, kami ingin membangun kesadaran seluruh pelaku bisnis di Surabaya dan Jawa Timur tentang pentingnya penerapan teknologi terbaik untuk mencegah & memerangi serangan siber sekaligus memenuhi kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku,” ujar Erwin Kuncoro, Rabu (9/ 11).

Ardi Sutedja Ketua Indonesia Cyber ​​Security Forum (ICSF) menambahkan, lanskap keamanan siber Indonesia sebenarnya tidak jauh berbeda dengan negara lain. Namun masalah yang paling mendasar dan sangat serius adalah kelangkaan sumber daya manusia (SDM) yang terlatih dan tersertifikasi dengan baik. Kesenjangan sumber daya manusia Indonesia dibandingkan dengan negara lain sangat jauh.

“Saat ini juga terdapat berbagai ancaman siber yang belum teridentifikasi dan memiliki nama serta deskripsi yang kerap menghantui kita semua di industri siber, yaitu Advanced Persistent Threat atau APT dan Mass Undetected Threat atau MUT,” ujar Ardi.

Oleh karena itu, tambah Irfan Wibowo, Manajer Konsultan Teknis PT Virtus technology Indonesia, perusahaan semakin menghadapi tekanan untuk melindungi diri dan pelanggannya dengan risiko keamanan yang semakin meningkat.

Melalui pendekatan keamanan intrinsik, para pihak secara bersama-sama berkomitmen untuk membantu kebutuhan pengguna teknologi dan menjadi mitra dalam menjaga integritas dan ketersediaan data guna mencapai ketahanan siber dan mengurangi risiko bisnis. “Selain itu juga menghubungkan people, process and technology untuk mengakselerasi inovasi dan memungkinkan hasil bisnis yang optimal,” jelas Irfan.

Oleh karena itu, langkah yang harus diperhatikan oleh para pelaku industri di Indonesia adalah memahami percepatan perkembangan digital saat ini yang perlu diimbangi dengan kemampuan dan kualitas sumber daya manusia.

Isu peningkatan keamanan siber perlu memperhatikan pengembangan sumber daya manusia, budaya, disiplin, pemahaman tata kelola, dan kepatuhan yang mengacu pada praktik keamanan siber global. “Yang tidak kalah pentingnya adalah tersedianya anggaran untuk keamanan siber,” pungkas Ardi Sutedja. (perbaiki/jay)

Leave a Reply

Your email address will not be published.