Tekno  

Erick Akui Hubungan Lama dengan Presiden FIFA Gianni

gambar_pdfgambar_cetak

Realitarakyat.com – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir dan Presiden FIFA Gianni Infantino memiliki hubungan baik yang sudah terjalin sejak lama, jauh sebelum Tragedi Kanjuruhan.

Selain sesama penggemar sepak bola, hubungan dengan Gianni sudah terjalin saat Erick masih menjabat sebagai Presiden Inter Milan pada tahun 2015.

“Saat itu Gianni menjabat sebagai Sekjen UEFA, jadi kami sering bertemu. Apalagi dia orang Italia dan juga Interisti, jadi dengan posisi saya di Internazionale FC, kami cepat dekat,” kata Erick dalam keterangan tertulis, Minggu (9/10).

Erick juga mengatakan, pada 2015 ketika sepak bola Indonesia mendapat sanksi dari FIFA akibat kekacauan antara pemerintah yang diwakili oleh mantan Menpora Imam Nahrawi dan PSSI yang saat itu dipimpin oleh La Nyala Matalitti, ia mendapat mandat dari Presiden Joko Widodo untuk membantu berkomunikasi dengannya. FIFA agar sanksi dicabut.

“Saat itu saya bukan apa-apa. Jadi saya juga kaget ketika Presiden meminta saya untuk mengurus sanksi. Akhirnya karena saya kenal baik Gianni, melalui dia, saya bisa membuka rute ke FIFA dan menyampaikan pesan presiden. amanat, sehingga sanksi dicabut pada 2016 dan hanya bertahan setahun,” tambah Erick.

Berkat hubungan yang kuat melalui bahasa sepakbola, untuk kedua kalinya, Erick mengaku telah meminta bantuan Gianni.

Atas amanat Presiden Joko Widodo, Erick terbang ke Doha untuk menemui Gianni Rabu (5/10) lalu, usai melakukan kunjungan kerja ke Eropa.

“Awalnya saya bertemu dengan perwakilan FIFA, padahal saya sudah berkomunikasi dengan Presiden Gianni. Apalagi sebelumnya Presiden Gianni juga telah melakukan kontak dengan presiden kita,” katanya.

“Akhirnya saya terbang ke Doha untuk bertemu Gianni. Saat pertama kali bertemu, keduanya mengalami kesulitan berbicara. Kami orang sepak bola, kami memiliki perasaan yang sama tentang kejadian itu,” kata Erick.

Erick mengungkapkan bahwa mata Gianni berlinang air mata saat keduanya bertemu.

“Dia bercerita bahwa semasa kecil dia sering dibawa ke stadion sepak bola bersama ayahnya dan tentu saja itu merupakan kebahagiaan yang tak terlupakan, sehingga kejadian di Kanjuruhan itu tidak akan pernah terpikirkan olehnya jika harus mengalaminya,” dia menambahkan.

Oleh karena itu, Erick menambahkan, sikap bijak FIFA yang bersedia bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk melakukan reformasi dan transformasi persepakbolaan nasional harus benar-benar dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan sepakbola Indonesia.

“Ini adalah FIFA yang bijak yang ingin membantu Indonesia. Jadi kita harus mengikuti petunjuk yang diberikan. Terus terang, hasil positif dari FIFA tak lain adalah kedekatan dan kepercayaan yang terjalin selama ini. Jadi, jangan pernah menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan,” kata Erick.

Gianni, lanjut Erick, akan berkunjung ke Indonesia pada 18 Oktober untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo guna mengawal transformasi persepakbolaan nasional.

“Pada 18 Oktober nanti Presiden FIFA akan datang ke sini (Indonesia) untuk bertemu dengan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo untuk menyepakati beberapa hal dan kami berharap pertemuan itu membuahkan hasil yang baik,” kata Erick.

Mantan presiden Inter Milan itu mengatakan, FIFA juga akan memiliki kantor di Indonesia untuk memastikan proses transformasi sepakbola Indonesia bisa berjalan optimal. Erick belum bisa memastikan sudah berapa lama FIFA bermarkas di Indonesia.

“Saya tidak tahu berapa lama, selama transformasi yang mereka bentuk itu berlangsung, lalu hilang, bisa tiga bulan, enam bulan, atau selamanya,” pungkas Erick.[prs]

Leave a Reply

Your email address will not be published.