Tekno  

Gaji Karyawan Startup India dan Amerika Turun, Bagaimana di Indonesia?

Raksasa teknologi di dunia sedang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran. Gaji para startup dan perusahaan teknologi di Amerika Serikat (AS) dan India juga anjlok.

Kenaikan gaji untuk startup dan perusahaan teknologi di India turun dari 100% menjadi hanya 30% di tengah badai PHK.

Direktur Senior Konsultan ABC mengatakan perusahaan teknologi menawarkan bakat digital kenaikan gaji dua kali lipat atau 100% tahun lalu. Saat itu, para pekerja di sektor ini mengundurkan diri secara besar-besaran untuk mendapatkan upah yang lebih tinggi.

Tapi sekarang, perusahaan teknologi besar-besaran melakukan PHK. “Kenaikan gaji turun menjadi hanya 25% – 35%,” kata Gupta Masa EkonomiRabu (23/11).

Perusahaan penyedia layanan perekrutan CIEL HR Services melaporkan, startup dan perusahaan teknologi melakukan penghematan besar-besaran. Selain itu, ancaman resesi ekonomi global membuat mereka menahan diri untuk merekrut talenta digital.

“Kenaikan gaji rata-rata untuk pekerjaan baru turun dari 54% pada Juli dan Agustus menjadi 45% pada September dan 37% pada Oktober,” kata laporan CIEL HR Services.

Kenaikan gaji pegawai startup dan perusahaan teknologi di India diprediksi turun lagi menjadi 35% dalam beberapa bulan ke depan.

Hal yang sama juga terjadi di Amerika Serikat. Perusahaan teknologi di negara itu memberhentikan 6.473 karyawan selama minggu pertama bulan November saja.

Jumlah karyawan yang di-PHK naik lebih dari 600% hanya dalam satu minggu.

“Pekerja di sektor teknologi harus menyesuaikan diri dengan kenyataan baru tentang upah yang lebih rendah dan tunjangan yang lebih sedikit,” kata beberapa sumber CrunchbaseSenin (21/11).

Perusahaan yang memberikan wawasan Terkait teknologi Dice melaporkan, lowongan kerja selama Juni 2021 dan 2022 meningkat sebesar 60%. Ini karena pemain besar seperti Amazon dan Apple terus merekrut talenta.

Perusahaan yang tidak dianggap sebagai ‘perusahaan teknologi’ tetapi menggunakan teknologi, seperti Disney, Deloitte, dan Bank of America, juga termasuk di antara 50 pemberi kerja teratas untuk peran teknologi.

Ada 554.573 lowongan pekerjaan teknologi pada akhir Juni. Angkanya hampir sebanding dengan yang di-PHK selama Juli-November tahun ini.

Pada 2019 dan 2020, gaji rata-rata karyawan di perusahaan teknologi naik 3,6%. Pada tahun 2020 dan 2021, melonjak hampir 7%.

Perusahaan harus menawarkan paket gaji dan tunjangan yang kompetitif untuk mempertahankan dan mempertahankan karyawan berharga yang mungkin dipekerjakan oleh perusahaan lain.

“Angka (gaji) itu kemungkinan akan turun,” kata Healy Jones, seorang eksekutif di perusahaan konsultan startup Kruze Consulting. “Perusahaan tidak lagi mampu mempekerjakan talenta baru dengan harga premium, dan pencari kerja mungkin menemukan pemberi kerja baru membayar lebih rendah dari pemberi kerja lama mereka,” katanya.

Gaji Karyawan Startup di Indonesia

Ketua Umum Asosiasi Startup Teknologi Indonesia (ATSINDO) Handito Joewono memperkirakan penurunan lowongan kerja bagi startup dan perusahaan teknologi di Indonesia juga akan tersendat hingga tahun depan.

“Banyak startup yang ‘sadar’ dan sudah bertransformasi menjadi korporasi, sehingga produktivitas dan efisiensi menjadi keseharian (hal umum),” kata Handito kepada Katadata.co.idKamis (24/11).

Katadata.co.id juga membenarkan adanya potensi pengurangan gaji karyawan startup bagi Founder dan CEO Binar Academy Alamanda Shantika. Namun dia belum bisa berkomentar.

Binar Academy memang menjadi salah satu perusahaan yang merumahkan karyawan pada akhir tahun ini.

Namun, Alamanda sempat menyebut permintaan talenta digital masih akan signifikan, meski jumlahnya banyak startup melakukan PHK. Pasalnya, ketersediaan talenta digital di Indonesia sangat minim.

Berdasarkan riset McKinsey dan Bank Dunia, Indonesia membutuhkan sekitar sembilan juta talenta digital sejak 2015 hingga 2030. Artinya, dibutuhkan 600 ribu tenaga ahli di bidang siber per tahun.

Infografis_bakat digital gaji tinggi

Infografis_bakat digital gaji tinggi (Katadata)

Namun menurutnya, penawaran gaji untuk talenta digital di startup akan lebih rasional. Ini karena startup belajar dari kendala anggaran dan lebih sadar menawarkan gaji kepada pekerja.

“Bukan tidak mungkin akan ada pengaturan untuk penawaran gaji perekrutan baru atau karyawan yang ada,” kata Alamanda Katadata.co.idpada Juni (7/6).

Selain itu, pendanaan untuk startup semakin ketat. Hal ini membuat manajemen startup lebih berhati-hati dalam melakukan rekrutmen.

Leave a Reply

Your email address will not be published.