Tekno  

Hubungan G20 dengan Hari Diabetes Sedunia

PERTEMUAN KTT para pemimpin G20 di Bali pada 15-16 November 2022 akan membahas banyak isu penting dunia. Diskusi tersebut terkait dengan tema besar: “Recover Together, Recover Stronger” (Sembuh Bersama, Sembuh Lebih Kuat). Tiga isu besar yang menjadi prioritas KTT para pemimpin G20 adalah isu arsitektur kesehatan global, transformasi digital, dan transisi energi berkelanjutan.

Sebagai bagian resmi dari kepresidenan G20, Think20 (T20) adalah wadah pemikiran (“bank ide”) untuk penelitian tentang isu-isu terkini. Di sinilah para ahli dan peneliti global ikut andil dalam merumuskan segala bentuk kajiannya. Harapannya adalah dapat memberikan kontribusi berupa solusi terbaik untuk segala aspek permasalahan yang dihadapi dunia saat ini.

Salah satu satgas T20 membahas isu keamanan, kesehatan global dan Covid-19. Hasil perumusan tersebut berupa kebijakan berbasis riset. Selanjutnya akan direkomendasikan kepada para pemimpin dunia pada acara G20 yang merupakan forum kerjasama multilateral yang beranggotakan 19 negara utama plus Uni Eropa (UE).

Menjelang KTT G20, Hari Diabetes Sedunia diperingati. Diadakan pada tanggal 14 November setiap tahunnya. World Health Organization (WHO) dan International Diabetes Federation (IDF) bersama-sama mengusung tema Access to Diabetes Care. Topik penting ini ditegaskan selama tiga tahun berturut-turut, sejak 2021 hingga 2023. Munculnya isu ini ke permukaan didasari keprihatinan dunia. Jutaan penderita diabetes di seluruh dunia tidak memiliki akses ke perawatan yang memadai.

Melalui tema ini, WHO dan IDF mengharapkan terpenuhinya distribusi obat-obatan, teknologi penunjang medis, dan perawatan khusus bagi seluruh pasien yang membutuhkannya. Pemerintah dituntut untuk meningkatkan fasilitas pencegahan dan pengobatan diabetes bagi setiap warga negara.

Masalah Diabetes di G20

Masalah rumit pandemi Covid-19 masih dihadapi oleh masyarakat di seluruh dunia. Namun, ada ancaman lain yang tak kalah rumit. Diabetes melitus merupakan masalah global yang membutuhkan solusi. Dampaknya dapat membebani sistem kesehatan yang tentunya dapat berdampak pada perekonomian negara. KTT G20 perlu mengantisipasi masalah peningkatan jumlah penderita diabetes di seluruh dunia. Perlu dibangun sistem kesehatan yang lebih mumpuni dan mudah diakses oleh siapa saja yang membutuhkan.

Saat ini terdapat 422 juta penderita diabetes di seluruh dunia. Diproyeksikan akan meningkat menjadi 578 juta pada 2030 dan 700 juta pada 2045. Ironisnya, mayoritas (sekitar 81 persen) penderitanya adalah warga negara berpenghasilan menengah dan rendah. Beban ekonomi dapat mempersulit keuangan negara. Diabetes menyebabkan 6,7 juta kematian per tahun atau satu orang setiap lima detik.

Negara kita menempati peringkat kelima di dunia dalam hal jumlah penderita diabetes. Data tersebut akan dirilis IDF pada 2021. Indonesia menyumbang 19,47 juta penderita diabetes. Prevalensinya saat ini sebesar 10,6 persen diprediksi meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2045 jumlah penderitanya diperkirakan mencapai 28,57 juta orang.

Terkait beban biaya pengobatan, data yang dirilis IDF bisa menjadi gambaran. Setiap penderita diabetes di Indonesia dapat menghabiskan US$ 323,8 per tahun. Biaya ini meningkat 305 persen jika dibandingkan sepuluh tahun lalu. Setiap tahun anggaran ini akan terus merangkak naik. Pada tahun 2030 diperkirakan akan meningkat sebesar 14 persen menjadi US$ 370,6. Apalagi bisa memakan anggaran hingga US$ 431,7 per orang pada 2045. Angka kenaikan itu setara 33 persen jika dibandingkan 2021.

Penelitian Insulin Domestik

Diabetes yang sering disebut sebagai induk dari segala penyakit dapat memicu berbagai komplikasi pada banyak organ tubuh. Penyakit jantung koroner, stroke, gagal ginjal kronis, penyakit pembuluh darah, dan perlemakan hati adalah efek jangka panjang dari diabetes. Risiko mengalami kebutaan bisa meningkat hingga 25 kali lipat dibanding orang sehat.

Insulin yang ditemukan oleh Frederick Banting dan Charles Best pada tahun 1922 merupakan tonggak sejarah dalam manajemen diabetes. Tanggal 14 November 1891 merupakan hari lahir Frederick Banting yang juga menandai peringatan Hari Diabetes Sedunia. Kontribusi spektakuler dari ahli kelahiran Kanada ini pantas mendapatkan Penghargaan Nobel dalam Fisiologi/Kedokteran pada tahun 1923.

Insulin sebagai tulang punggung pengobatan diabetes pada awalnya diekstraksi dari pankreas hewan. Kemudian dimurnikan. Sejak tahun 1982 perkembangan teknologi rekayasa genetika telah berhasil membawa mikroba Escherichia coli dan khamir untuk digunakan dalam pembuatan insulin manusia rekombinan. Penemuan analog insulin, suatu bentuk insulin manusia yang dapat dimodifikasi untuk berbagai keperluan, muncul pada tahun 1997. Hal ini selanjutnya dapat meningkatkan kualitas hidup pasien diabetes. Jadwal aktivitas harian mereka menjadi lebih fleksibel karenanya.

Sayangnya, untuk kebutuhan dalam negeri, Indonesia masih harus mengimpor insulin. Saat ini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang melakukan penelitian dan pengembangan biosimilar insulin. Keberhasilan salah satu prioritas riset nasional (PRN) dengan menggunakan teknologi canggih tersebut dapat mewujudkan kemandirian nasional dalam penyediaan obat diabetes. BRIN bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi ternama di tanah air, PT Bio Farma, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Dunia kedokteran di Indonesia sangat berharap agenda penting penelitian insulin di dalam negeri dapat menjadi bahan kajian di KTT G20. Masukan dari para ahli global, khususnya dalam teknologi produksi insulin, dapat membawa angin segar untuk mempercepat swasembada insulin di dalam negeri.


*) ARI BASKORO,

Leave a Reply

Your email address will not be published.