Tekno  

Indonesia Tak Dapat Sanksi FIFA, Apakah Kontribusi Lobi Erick Thohir?

Federasi Sepak Bola Internasional atau FIFA tidak menjatuhkan sanksi berat kepada Indonesia terkait tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan tersebut. Namun, FIFA akan memiliki kantor di Indonesia untuk mengawal transformasi sepakbola di Indonesia.

Presiden Joko Widodo dalam konferensi pers pada Jumat (7/10) malam memastikan tidak ada sanksi yang diberikan FIFA kepada Indonesia. Hal itu diungkapkan Jokowi usai menerima surat resmi dari FIFA.

Namun, ada segudang pekerjaan rumah yang diberikan FIFA kepada Indonesia. Pemerintah dan FIFA juga akan membentuk tim khusus untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah.

FIFA mendorong Indonesia untuk meninjau dan meningkatkan fasilitas keamanan di semua stadion, meningkatkan protokol keamanan oleh pejabat terkait manajemen kerumunan selama pertandingan, dan mendorong PSSI untuk melibatkan pendukung dalam diskusi tentang peningkatan fasilitas keamanan stadion.

Selain itu, FIFA juga meminta agar penjadwalan pertandingan mempertimbangkan beberapa aspek, seperti ketersediaan transportasi umum dan pengaturan waktu memulai menyarankan agar pemerintah melakukan perbandingan dan meminta saran dari lembaga internasional untuk mereformasi sepakbola.

Sebelum surat resmi FIFA dikirim ke Indonesia, Presiden Joko Widodo telah meminta Menteri BUMN Erick Thohir untuk bertemu dengan Presiden FIFA Gianni Ifantino. Keduanya memiliki hubungan yang baik sejak Erick menjabat sebagai Presiden Inter Milan pada tahun 2015.

“Saat itu Gianni menjabat sebagai Sekjen UEFA, jadi kami sering bertemu. Apalagi dia orang Italia dan juga seorang Interisti, jadi dengan posisi saya di Internazionale FC, kami dengan cepat menjadi dekat,” kata Erick Thohir dalam siaran persnya. Sabtu (8/10).

Erick mengaku juga menerima permintaan Jokowi untuk berkomunikasi dengan FIFA ketika sepak bola Indonesia terkena sanksi FIFA akibat kekacauan antara pemerintah yang diwakili oleh Menteri Pemuda dan Olahraga saat itu, Imam Nahrawi dan PSSI yang dipimpin oleh La Nyala Matalitti.

“Saat itu saya bukan siapa-siapa. Jadi saya juga kaget ketika Presiden meminta saya untuk mengurus sanksi. Karena saya mengenal Gianni dengan baik, melalui dia, saya bisa membuka rute ke FIFA dan menyampaikan amanat Presiden. ,” kata Erick.

Sanksi tersebut akhirnya hanya bertahan selama satu tahun dan dicabut pada 2016. Erick juga meminta bantuan Gianni untuk kedua kalinya terkait kasus Stadion Kanjuruhan. Dia terbang ke Doha untuk bertemu dengan presiden FIFA setelah melakukan kunjungan kerja ke Eropa.

“Saya terbang ke Doha untuk bertemu Gianni. Saat pertama kali bertemu, masing-masing sulit untuk diajak bicara. Kami orang sepak bola, kami memiliki perasaan yang sama tentang apa yang terjadi,” kata Erick.

Erick mengatakan bahwa mata Gianni berlinang air mata saat bertemu dengannya. “Dia bercerita bahwa semasa kecil dia sering dibawa ke stadion sepak bola bersama ayahnya dan tentu saja itu merupakan kebahagiaan yang tak terlupakan, sehingga kejadian di Kanjuruhan itu tidak akan pernah terpikirkan olehnya jika harus mengalaminya,” dia berkata.

Ia menegaskan, sikap FIFA yang bersedia bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk mereformasi dan mentransformasi sepak bola nasional, harus benar-benar dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan sepak bola Indonesia.

“Ini FIFA bijak yang ingin membantu Indonesia. Jadi kita harus menjalankan arahan yang diberikan. Terus terang, hasil positif dari FIFA tak lain adalah kedekatan dan kepercayaan yang selama ini terjalin. Jadi jangan pernah disia-siakan. ,” kata Erick.

Leave a Reply

Your email address will not be published.