Tekno  

Kasus Tuberkulosis Capai 1.601 Kasus, Sukabumi Gencar Lakukan Pencegahan

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI — Upaya penanganan dan pencegahan kasus TBC di Kota Sukabumi terus digencarkan. Data terakhir hingga 12 November 2022 tercatat 1.601 kasus tuberkulosis.

Dinas Kesehatan Kota Sukabumi juga menggelar audiensi dan advokasi Rencana Aksi Daerah (RAD) Tuberkulosis di Oproom Room Sekretariat Daerah Kota Sukabumi, Senin (14/11/2022). Kegiatan ini merupakan upaya pencegahan kasus tuberkulosis dengan melibatkan unsur Pentahelix.

“Momen ini untuk mempererat kebersamaan dalam penanganan dan pencegahan tuberkulosis,” ujar Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Lulis Delawati.

Harapannya, kasus TBC di Kota Sukabumi dapat ditekan semaksimal mungkin. Hal ini dapat diwujudkan dengan Rencana Aksi Daerah (RAD) Tuberkulosis. Dengan demikian, penanganannya menjadi komprehensif dan terpadu.

“Pada masa pasca pandemi, tuberkulosis menjadi salah satu prioritas, karena saat ini kita sedang berusaha membagi fokus penanggulangan tuberkulosis dan stunting,” kata Walikota Sukabumi, Achmad Fahmi.

Intinya, berusaha mempererat kebersamaan untuk mengantisipasi TBC. Pasalnya, kata Fahmi, Indonesia merupakan negara penyumbang kasus TBC kedua di dunia yang semula berada di urutan ketiga. Dimana data dari Dinas Kesehatan menyebutkan per 12 November 2022 terdapat 1.601 kasus tuberkulosis.

Dari jumlah itu, terdapat 246 kasus tuberkulosis pada anak. Dimana Kota Sukabumi merupakan daerah dengan temuan kasus melebihi target yaitu 130 persen.

“Benar-benar menemukan kasus terpapar TB agar cepat diobati sejalan dengan istilah find treat until cure (TOSS). Jadi, target awal TB ditemukan, dan Kota Sukabumi melebihi target tersebut,” ujarnya.

Sebab, kata Fahmi, semakin banyak kasus yang ditemukan maka penanganannya akan semakin maksimal. “Pengobatan dan pengobatan tuberkulosis melibatkan semua pihak, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat dalam bentuk jaringan kerja sama,” imbuhnya.

Upaya komprehensif, terpadu dan berkesinambungan menjadi kata kunci penanganan kasus TB. Khususnya melibatkan unsur pentahelix yang memiliki andil dalam penanganan TB yaitu akademisi, dunia usaha, pemerintah, komunitas, dan media.

“Semua berkolaborasi secara komprehensif akan memberikan hasil terbaik dalam perjalanan antisipasi kasus TB,” kata Fahmi.

Lanjutnya, pada 9 November 2022 Gubernur Jabar memberikan penghargaan kepada Kota Sukabumi yaitu sebagai Kota Non Prioritas dengan capaian Indikator PPM terbaik di Provinsi Jawa Barat.

Penghargaan ini karena kerjasama jaringan untuk menemukan pasien TB. Selain itu, apresiasi terhadap kota yang berkomunikasi dengan baik dalam penanganan TB.

Ke depan, kata Fahmi, diperlukan percepatan penanganan kasus TBC. Momentum saat ini sedang melakukan kerjasama dan koordinasi pencegahan dan pengobatan TB di Kota Sukabumi.

“Intinya percepatan penyelesaian di Kota Sukabumi. Intinya bagaimana komitmen dan koordinasinya,” ujar Fahmi.

Dikatakannya TB dan stunting menjadi perhatian dalam mewujudkan cita-cita karakter pemuda unggul di Jabar, khususnya Sukabumi. Ciri-ciri remaja unggul adalah IQ otak yang cerdas, fisik yang sehat, akhlak yang terpuji, dan ibadah yang kuat. Sehat jasmani agar mampu bersaing, tidak hanya memiliki otak cerdas guna mempercepat tujuan nasional.

“Tidak mungkin menciptakan generasi muda berkualitas yang berdaya saing dan beradaptasi dengan percepatan teknologi jika mereka mengidap TB,” kata Fahmi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.