Tekno  

Kementan Gandeng Fermentor Mempopulerkan Pangan Lokal dari Tempe

Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Suwandi mengatakan, tempe tidak hanya terbuat dari kedelai, tetapi juga dari kacang koro, bonggol, gude, dan masih banyak bahan pangan lokal lainnya.

RAKYATKU.COM – Kementerian Pertanian (Kementan) bekerjasama dengan Peragi (Perhimpunan Agronomi Indonesia) terus memasyarakatkan pangan lokal, khususnya tempe berbahan dasar kedelai lokal yang memiliki berbagai keunggulan. Tempe sangat dikenal dalam kehidupan masyarakat nusantara, tempe tidak hanya dimakan tetapi disajikan dalam bentuk berbagai olahan makanan.

Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Suwandi mengatakan, tempe tidak hanya terbuat dari kedelai, tetapi juga dari kacang koro, bonggol, gude, dan masih banyak bahan pangan lokal lainnya.

Dengan banyaknya variasi bahan baku tempe, menambah khazanah tempe Indonesia dengan kearifan lokalnya dan keragaman tempe dapat menciptakan potensi untuk mengolah lahan marginal.

Baca Juga: Begini Penjelasan Para Ilmuwan dan Pemrakarsa Tentang Biosaka

“Sesuai dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, upaya penyediaan pangan khususnya pangan lokal yang bernilai gizi tinggi seperti tempe harus diperkuat dengan cara baru atau modern. Yakni harus lebih maju dengan Lompatan hasil yang lebih besar dicapai agar ketersediaan pangan tangguh, diikuti dengan upaya hilirisasi dan kepastian pasar untuk meningkatkan kesejahteraan petani bahkan ekspor,” kata Suwandi dalam Bimbingan Teknis dan Sosialisasi Propaktani Episode 729, Jakarta, Selasa (15/11). /2022).

Sementara itu, Ketua Umum Peragi Provinsi DKI Jakarta, Prof., Sylviana Murni mengatakan tempe merupakan makanan ideal untuk dunia yang semakin berkeadilan. Tempe menjadi jaminan makanan dengan cita rasa yang nikmat ditambah pembuatannya yang mudah dan murah dengan kualitas gizi yang tinggi.

“Jadi, jika tempe memiliki nilai yang begitu tinggi bagi dunia, apakah masyarakat Indonesia masih meragukan kemakmuran Indonesia ke depan? Jawabannya tergantung bagaimana masyarakat Indonesia menghargai karya dan budaya bangsanya sendiri,” ujar Sylviana.

Baca Juga: Mentan SYL Panen Padi untuk Aplikasi Biosaka di Blitar, Produktivitas 8,9 Ton

Co-founder Gerakan Tempe, Amadeus Driando Winarno menyebutkan banyak keunggulan tempe yang belum banyak diketahui masyarakat luas. Jika dibandingkan dengan daging sapi, kandungan protein dan energi tempe bisa sama atau lebih tinggi, seratnya jauh lebih tinggi, begitu juga dengan kandungan kalsiumnya. Lemak jenuh dan garam di dalamnya jauh lebih rendah, sedangkan kandungan zat besinya sama.

“Keunggulan lainnya adalah proses produksi tempe yang ramah lingkungan. Satu megajoule energi menghasilkan kurang lebih 4 gram daging sapi. Sedangkan tempe empat kali lebih efisien yaitu menghasilkan 17 gram. Untuk keluaran gas rumah kaca dalam satuan kilogram karbon dioksida menghasilkan sekitar Protein daging sapi 7 gram. Tempe hemat 20 kali lipat dan hasil 160 gram. Harga bisa 8 kali lipat lebih murah,” ujarnya.

Dari sisi teknologi dan inovasi, Akademisi Teknologi Pertanian UGM, Atris Suyantohadi mengatakan, teknologi Smart Agriculture Enterprise dapat mendorong optimalisasi tanaman kedelai sebagai bahan baku tempe di daerah tropis.

Baca Juga: Stok Beras Melimpah Hingga Akhir Tahun 2022

Pada prinsipnya SAE merupakan teknologi yang berfokus pada intensifikasi pertanian regeneratif dan teknologi ini membuat tanaman kedelai lebih mudah dibudidayakan pada lahan di iklim tropis.

“Pada saat tanam, kedelai dimonitor terkait kecukupan nutrisi, kebutuhan air, kondisi cuaca, kebutuhan pupuk hingga tingkat kelembaban tanah. Sensor yang ditempatkan di lahan kedelai berfungsi sebagai pemandu semua aspek tersebut secara real time,” jelas Atris.

Leave a Reply

Your email address will not be published.