Tekno  

Kerusuhan Iran setelah Piala Dunia, para demonstran ditampar dan diteriaki

Jakarta, CNNIndonesia

Penduduk Iran yang menyaksikan Piala Dunia terbagi, antara suporter timnas dan para pembela demonstrasi di kampung halamannya. Selama Piala Dunia, warga sering terlibat cekcok.

Keributan semakin memuncak jelang laga timnas Iran melawan Amerika Serikat di Piala Dunia Qatar, Selasa (29/11).

Demonstran tidak mau mendukung timnas. Mereka menilai rezim memanfaatkan timnas untuk memperbaiki citranya di tengah gelombang demonstrasi di Iran.

Di sisi lain, suporter timnas menilai rakyat Iran harus terus mendukung perjuangan para pemain sepak bola di Piala Dunia.

Sebelum pertandingan dimulai pada Selasa, kedua kubu Iran sudah panas. Dua orang Iran yang mengenakan T-shirt dengan slogan protes berulang kali dilecehkan saat diwawancarai oleh wartawan Associated Press.

Salah satu narasumber, Maryam, ditampar sangat keras oleh seorang pria Iran. Petugas langsung memisahkan mereka, namun tidak menahan pria yang menampar mereka.

Pria lain meniup vuvuzela untuk menyela wawancara. Salah satu pria berteriak dalam bahasa Farsi, “Mengapa menurut Anda Iran itu buruk?”

Tak peduli, Maryam melanjutkan wawancaranya. Menurutnya, temannya yang lain juga dilecehkan saat menonton pertandingan Iran melawan Wales Jumat lalu.

“Mereka tidak bisa menghentikan kami. Orang-orang dibunuh dan saya tidak bisa dihentikan oleh orang asing. Saya tidak takut pada mereka,” katanya.

Mehrdad dan Eli, warga Iran asal Arizona, juga mengaku mendapat perlakuan tidak menyenangkan karena membawa foto perempuan yang tewas dalam demonstrasi. Eli akhirnya menyimpan foto itu di tasnya.

Menurut mereka, suasana tegang sangat terasa di dalam stadion. Mereka merasa sedang dimata-matai oleh agen dari sayap elit angkatan bersenjata Iran, Pengawal Revolusi Iran (IRGC).

“Saya merasa dikelilingi oleh agen IRGC. Semua orang mengawasi kami,” katanya.

Kemarahan penggemar tim nasional meningkat ketika Iran kalah pada hari Selasa, membuat negara mereka tersingkir dari Piala Dunia.

Tak lama setelah pertandingan usai, pertengkaran pecah antara demonstran Iran yang mengangkat potret mantan pendukung protes sepak bola Ali Karimi dan jurnalis dari media pemerintah.

Keributan terjadi saat wartawan hendak merekam para pengunjuk rasa. Namun, petugas keamanan kemudian memisahkan mereka.

[Gambas:Video CNN]

Laga Iran di Piala Dunia memang dibayangi konflik di kampung halamannya. Selama beberapa bulan terakhir, warga turun ke jalan untuk memprotes kematian Mahsa Amini, perempuan berusia 22 tahun yang meninggal dalam tahanan.

Amini diduga ditahan karena melanggar aturan berpakaian. Dalam gelombang demonstrasi ini, pengunjuk rasa juga memprotes berbagai peraturan yang mendiskriminasi perempuan.

Banyak pihak yang mendukung demonstrasi ini, termasuk para pemain timnas Iran sendiri. Mereka menolak untuk menyanyikan lagu kebangsaan pada pembukaan Piala Dunia Qatar pekan lalu.

Seorang sumber keamanan mengatakan kepada CNN bahwa mereka dipanggil untuk menghadap IRGC. Dalam pertemuan tersebut, IRGC mengancam akan menyiksa dan memenjarakan keluarga para pemain timnas jika tidak “berperilaku” di Piala Dunia.

Namun, Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Azad, membantah laporan tersebut. Menurut dia, berita itu direkayasa oleh kelompok anti-Iran.

“Mereka berusaha membuat fitnah dan berita palsu untuk merusak suasana baik tim nasional Iran dan mencegah kesuksesan Iran di ajang bergengsi ini,” kata Azad kepada CNNIndonesia.com.

(memiliki)







Leave a Reply

Your email address will not be published.