Tekno  

KNKT Minta Klakson Telolet Dilarang, Timbul Kecelakaan Truk Pertamina

Jakarta, CNN Indonesia

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (NTSC) direkomendasikan kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk melarang klakson telolet di truk dan bus. Usulan itu disampaikan setelah KNKT merilis hasil investigasi kecelakaan maut truk tangki Pertamina di Cibubur Juli lalu.

“Untuk sementara waktu melarang semua penggunaan klakson tambahan yang pemasangannya menghabiskan sumber daya energi pneumatik dari tabung udara sistem rem, sekaligus merumuskan kebijakan teknis yang tepat,” kata Penyidik ​​Senior KNKT Ahmad Wildan di Jakarta. konferensi persSelasa (18/10).

Klakson telolet merupakan sistem bantu yang mengandalkan tekanan udara dari sistem pengereman untuk menghasilkan suara yang keras.

Perangkat ini sekarang banyak diinginkan oleh pengemudi karena kebutuhan mereka akan klakson atau hiburan yang keras, tetapi beberapa tidak diterapkan dengan benar.

KNKT menemukan truk maut di Cibubur yang memiliki sistem pengereman udara di atas rem hidrolik ada sistem klakson telolet.

Komponen katup solenoida klakson telolet, yang membuka dan menutup saluran tekanan udara untuk menghasilkan suara keras, rusak. Hal ini menyebabkan tekanan udara sistem pengereman bocor.

“Klakson ini serius menggunakan udara bekas rem. Itu kan nyambung dengan hukum kapal yang disambung. Kalau selangnya bagus, ikatannya bagus, ada satu hal yang tidak bisa dijamin, yaitu katup solenoidakata Liar.

Katup solenoidakata Wildan, bukan diproduksi oleh Agen Pemegang Merek (APM) tapi barang aftermarket. Kualitas produk ini, termasuk pertanyaan tentang daya tahan dan masa pakai, tidak diketahui.

KNKT mengungkapkan, setelah melakukan pemeriksaan terhadap truk tangki maut tersebut, ditemukan komponen segel pada katup solenoida pada klakson telolet sobek sehingga mengalami ‘angin pelan’.

Tidak hanya itu, KNKT juga menemukan bahwa penurunan tekanan udara dipicu oleh malfungsi stroke perjalanan bantalan rem.

Secara keseluruhan penyebab kecelakaan dikatakan karena kegagalan pengereman karena suplai tekanan udara di dalam tabung berada di bawah ambang batas, sehingga tidak cukup kuat untuk pengereman yang optimal.

“Oleh karena itu, kami meminta Dirjen Perhubungan Darat merumuskan bagaimana kebutuhan klakson keras dari pengemudi bus dan truk dapat dipenuhi tetapi tidak membahayakan sistem rem,” kata Wildan.

Kecelakaan truk Pertamina B 9598 BEH yang mengangkut 24 ton BBM Pertalite terjadi pada 18 Juli 2022 di Cibubur. Kecelakaan ini menewaskan 10 orang, 5 luka berat dan 1 luka ringan.

[Gambas:Youtube]

(fea)


Leave a Reply

Your email address will not be published.