Tekno  

Korban Meninggal Tragedi Kanjuruhan Terbaru, Sempat Dikunjungi Jokowi

JawaPos.com-Jumlah korban yang meninggal akibat tragedi Kanjuruhan bertambah. Hingga kemarin (11/10) jumlahnya tercatat 132 orang. Satu korban tambahan adalah Helen Prisella, 20, warga Desa Amadanom, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.

Sebagai informasi, Helen adalah pasien yang didatangi Presiden Joko Widodo di RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang, 5 Oktober lalu.

Sebelumnya, pada 10 Oktober lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang telah memastikan ada tambahan satu korban jiwa dari Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Belakangan, setelah diverifikasi lebih lanjut, ternyata nama-nama korban tercatat ganda.

“Memang ada berbagai verifikasi. Misalnya, ada konfirmasi pasien ganda yang meninggal. Kemudian, informasi tambahan tentang almarhum dari Gedangan. Setelah dilakukan verifikasi dan validasi, data tersebut memang tetap menjadi 131. Hanya ada penambahan ya, korban dari Dampit sebanyak 132 orang,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, dr Wiyanto Wijoyo kepada Jawa Pos Radar Malang, kemarin (11/10).

Ia mengatakan, data terakhir diperoleh dari hasil rekonsiliasi dan konfirmasi tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jatim dan Puskesmas. Sebagai gambaran, total ada 10 rumah sakit (RS) tempat pasien yang akhirnya meninggal dunia. Total pasien yang meninggal di rumah sakit tersebut tercatat sebanyak 119 orang.

Selain itu, ada juga penonton yang meninggal di fasilitas non kesehatan (faskes) atau di luar rumah sakit. Jumlahnya 13 orang.

“Ada 21 pasien yang dirawat di rumah sakit. Sedangkan pasien rawat jalan sebanyak 585 orang,” tambah Wiyanto.

Dia merinci, ada tujuh rumah sakit yang saat ini masih merawat pasien. RSSA Malang yang paling banyak merawat pasien. Sebanyak 10 pasien masih dirawat di sana.

Sedangkan untuk korban luka ringan dan sedang, ada 43 rumah sakit yang terus melakukan pemantauan.

Puluhan rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya diinstruksikan untuk memantau kondisi kesehatan pasien rawat jalan. Jika ditotal secara keseluruhan, hingga kemarin (11/10) ada 739 korban tragedi Kanjuruhan.

Di tempat lain, Akmal Marhali, anggota Tim Gabungan Pencari Fakta Independen (TGIPF) menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Aremanita bernama Helen. Dia membenarkan bahwa TGIPF masih bekerja mengumpulkan fakta.

“Untuk 11 Oktober, kami bertemu dengan berbagai institusi. Mulai dari Ketua LPSK (lembaga perlindungan saksi dan korban) dan tim penyidik. Kemudian, juga Direktur Utama PT LIB (Liga Indonesia Baru) dan Direktur Operasional,” kata Akmal.

Pihaknya juga telah bertemu dengan Direktur Program Indosiar dan Komisioner Komnas HAM, kemarin.

Di tempat lain, Pemkot Malang mulai gencar mendata ulang warganya yang menjadi korban tragedi Kanjuruhan. Langkah ini diambil karena tidak semua korban tragedi Kanjuruhan dirawat di rumah sakit.

Ada juga yang memilih untuk mengobati sendiri. Wargalah yang akan diminta untuk melapor ke pemerintah kota. Tujuannya, agar biaya pengobatan bisa ditanggung sepenuhnya oleh Pemkot alias gratis.

“Kita akan turun ke kecamatan masing-masing lagi. Di Kedungkandang hanya satu orang, kita rekam ulang mengingat dia juga korban,” kata Wali Kota Malang Sutiaji.

Pemilik kursi N1 juga telah memerintahkan Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Kependudukan dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) untuk menghitung ulang jumlah korban.

Dari pendataan, pemerintah kota akan menentukan pilihan pengobatan. Bisa berupa layanan trauma healing atau pemberian bansos bagi keluarga korban.

Dari ratusan warga Kota Malang yang menjadi korban tragedi Kanjuruhan, hingga kemarin ada 17 orang yang mendapatkan pelayanan trauma healing. Secara umum, Sutiaji menargetkan dalam pekan ini semua pendataan kecamatan sudah selesai.

“Nantinya di setiap kecamatan hingga kelurahan akan ada puskesos (pusat kesejahteraan sosial) yang bisa dimaksimalkan agar korban mendapat jaminan kesehatan,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita juga meminta agar pendataan korban tragedi Kanjuruhan dimutakhirkan setiap hari. Karena katanya ada korban yang berdomisili di Kota Malang, namun tidak memiliki KTP Kota Malang.

“Apalagi jika masih ada luka seperti sesak napas. Tentu perlu perhatian dari Puskesmas setempat,” ujar perempuan yang akrab disapa Mia ini.

Beberapa korban tragedi yang masih berstatus pelajar juga mendapat perhatian darinya. Mia meminta agar layanan trauma healing diberikan kepada mereka.

“Nanti harus ada pendampingan khusus, entah itu trauma healing atau pendampingan di sekolah,” ujarnya. Permintaan itu berdasarkan laporan yang diterima kantornya, yang menyebutkan ada korban yang menolak sekolah karena masih trauma.

Redaktur : Ainur Rohman

Reporter : fin/adn/by/Jawa Pos Radar Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published.