Tekno  

Laporan KontraS 12 Temuan Awal Proses Penyelidikan Tragedi Kanjuruhan Malang

ASKARA – Korban luka-luka Tragedi Kanjuruhan Malang bertambah menjadi 714 orang, termasuk korban tewas 131 orang. Tragedi Kanjuruhan terjadi usai pertandingan sepak bola yang mempertemukan Arema FC vs Persebaya pada 1 Oktober lalu.

Sebanyak 131 orang tewas akibat terinjak-injak setelah polisi yang bertugas menembakkan gas air untuk membubarkan massa. Penonton yang tidak ikut dalam kerusuhan itu juga menjadi korban gas air mata yang ditembakkan polisi.

KontraS menyampaikan laporan bahwa Tim Pencari Fakta Koalisi Masyarakat Sipil menemukan setidaknya 12 temuan awal selama proses penyelidikan. Pertama, tim menemukan bahwa pada pertengahan babak kedua terjadi pengerahan sejumlah pasukan yang membawa gas air mata, padahal diketahui tidak ada ancaman atau potensi gangguan keamanan saat itu.

Kedua, saat pertandingan Arema FC vs Persebaya usai, berdasarkan keterangan para saksi, sejumlah suporter yang masuk ke lapangan hanya ingin memberikan motivasi dan memberikan dukungan moril kepada seluruh pemain.

“Namun, responnya berlebihan dengan mengerahkan pasukan keamanan dan kemudian terjadi kekerasan. Karena itu, pendukung lainnya juga turun ke lapangan untuk membantu pendukung yang mengalami kekerasan dari aparat keamanan, bukan untuk penyerangan,” tulis KontraS melalui akun Twitternya, @KontraS, dikutip Selasa (11/10).

Ketiga, lanjutnya, sebelum terjadinya penembakan gas air mata, tidak ada upaya pihak berwenang untuk menggunakan kekuatan lain, seperti kekuatan yang memiliki efek jera, perintah lisan atau peringatan suara hingga kontrol lembut dengan tangan kosong.

Keempat, tindak kekerasan yang dialami para pendukung tidak hanya dilakukan oleh anggota Polri tetapi juga dilakukan oleh prajurit TNI dalam berbagai bentuk seperti menyeret, memukul, dan menendang.

Kelima, kesaksian para pendukung, penembakan gas air mata tidak hanya ditujukan ke lapangan, tetapi juga di sisi Selatan, Timur dan Utara Tribun sehingga menimbulkan kepanikan luar biasa bagi para pendukung yang berada di dalam Tribun.

Keenam, saat hendak keluar dengan kondisi akses evakuasi sempit, terjadi penumpukan di sejumlah pintu yang terkunci. Diperparah dengan penembakan gas air mata secara masif oleh polisi, yang membuat korban kesulitan bernapas hingga menelan korban jiwa.

Ketujuh, setelah mengalami rentetan kejadian kekerasan, para pendukung yang keluar berdesak-desakan, minimal mengalami pertolongan langsung dari pihak kepolisian, para korban dengan caranya sendiri berusaha keluar.

“Diduga kuat, kondisi pasca penembakan gas air mata di tribun penonton menjadi momen banyak penonton yang meninggal. Saat itu, belum ada kondisi medis yang optimal untuk merespon kondisi kritis penonton yang terpapar asap gas air mata,” kata KontraS.

Kesembilan, pasca kejadian, ada pihak-pihak tertentu yang melakukan tindakan intimidasi baik melalui komunikasi maupun secara langsung. Tim menduga hal itu dilakukan untuk menimbulkan ketakutan pada saksi dan korban sehingga tidak mau memberikan kesaksian.

Kesepuluh, tim menemukan fakta bahwa hingga saat ini belum ada informasi detail dari pemerintah terkait data korban jiwa dan luka yang dapat diakses publik, termasuk informasi perkembangan penanganan kasus yang saat ini ditangani kepolisian.

Kesebelas, tim masih mengusut fakta, tim sudah berkomunikasi dengan Komnas HAM dan InfoLPSK kemudian menyampaikan sejumlah laporan. Namun, tim belum melihat kerja nyata Tim Gabungan Pencari Fakta Independen menemui sejumlah saksi dan korban.

Kedua belas, tim menganggap narasi temuan minum alkohol dan istilah “kerusuhan” menyesatkan. Sebaliknya, terjadi serangan sistematis atau pembunuhan terhadap warga sipil.

Kemudian mengenai keberadaan minuman beralkohol serta informasi yang dapat menyesatkan fokus dari penjelasan kasus ini. Sebab, tidak mungkin ada minuman beralkohol di dalam stadion karena saat memasuki stadion pemeriksaan yang sangat ketat dilakukan oleh Panpel dan polisi.

“Tim menilai telah terjadi tindakan kekerasan yang disengaja dan sistematis oleh aparat keamanan, tidak hanya oleh pelaku lapangan, yang ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi. Tapi ada aktor lain, dengan posisi lebih tinggi yang harus bertanggung jawab,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.