Tekno  

Melihat Potensi Indonesia Menjadi Eksportir Smartphone

Bisnis.com, JAKARTA – Di era sekarang ini, rasanya mustahil seseorang bisa hidup tanpa smartphone atau koneksi internet. Salah satu perangkat yang sudah menempel di telapak tangan adalah ponsel pintar atau smartphone yang terus berinovasi mengikuti perkembangan teknologi.

Berdasarkan laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dirilis baru-baru ini, mayoritas pengguna internet Indonesia atau sebanyak 89,03 persen mengakses internet dengan ponsel atau tablet.

Pengguna internet di Indonesia pada awal tahun 2022 dilaporkan telah mencapai 210 juta orang. Dari jumlah tersebut, mayoritas pengguna mengakses internet melalui ponsel untuk membuka media sosial.

Melihat pesatnya penggunaan smartphone dan internet di tanah air, pengamat gadget dari komunitas Gadtorade, Lucky Sebastian, menilai sudah selayaknya produsen ponsel di Indonesia mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri bahkan mengekspor perangkat ke luar negeri.

Adanya aturan nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dengan jumlah perangkat telekomunikasi berbasis 4G dan 5G minimal 35 persen, lanjutnya, dimaksudkan agar produsen ponsel membuat perangkatnya di dalam negeri, pada awalnya.

“Namun selain itu, saat ini tujuannya tidak hanya untuk membuka lapangan pekerjaan saja. Orientasinya adalah alih teknologi sehingga suatu saat konten TKDN yang semakin meningkat akan membuat negara kita menjadi pembuat ponsel seperti China,” ujarnya. kata, Senin (17/10/2022). .

Meski begitu, Lucky tidak memungkiri masih banyak tantangan yang harus dihadapi Indonesia untuk menjadi eksportir smartphone. Seperti saat ini, pembuatan ponsel di dalam negeri masih didominasi oleh perakitan dan bagian lainnya masih impor, belum buatan dalam negeri.

Agar lebih mandiri, menurut dia, produsen ponsel harus mengembangkan komponen smartphone yang semakin banyak bisa dibuat di dalam negeri, seperti layar, baterai, bahkan smartphone. chipset.

Gergaji keberuntungan berikutnya, batasan komponen perangkat keras Hal ini membuat TKDN juga berorientasi pada perangkat lunak dan investasi.

“Tentu saja perangkat lunak ini penting dan bisa membantu developer dalam negeri, tapi aturannya masih timpang, karena orientasinya ke perangkat lunak yang sudah banyak digunakan.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengatakan Indonesia bisa menjadi basis produksi smartphone yang diekspor ke banyak negara di dunia.

Menurutnya, hal tersebut ditunjukkan dengan pencapaian produksi ponsel pintar oleh PT Samsung Electronics Indonesia (PT SEIN) yang berhasil mengekspor 8 juta unit ponsel ke berbagai negara dari 2018 hingga kuartal ketiga 2022.

“Pencapaian ekspor ini tentunya dapat mendorong Indonesia menjadi basis produksi produk elektronik, termasuk telepon seluler [ponsel] cerdik [smartphone]” kata Menteri Perdagangan Zulkifli.

Ia mengatakan pencapaian ini dimungkinkan karena kerja keras dan dedikasi para eksportir Indonesia, termasuk PT SEIN. Namun, ia mengingatkan untuk tidak gegabah karena tantangan global ke depan akan semakin besar.

Lebih lanjut Mendag menyampaikan bahwa sektor elektronik merupakan leading sector yang masuk dalam prioritas Making Indonesia 4.0. Sektor ini merupakan komponen ekspor terbesar ke-4 dalam struktur ekspor Indonesia.

“Pada periode Januari-Juli 2022, nilai ekspor elektronik Indonesia mencapai US$9,43 miliar. Nilai ini meningkat 18,9% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$7,93 miliar,” katanya.

Mendag menambahkan, secara umum kinerja perdagangan elektronik di dalam negeri tercatat cukup baik. Saat ini Indonesia menduduki peringkat ke-34 sebagai eksportir elektronik dengan pangsa 0,25 persen.

Melalui sinergi antara pihak swasta seperti PT SEIN dan pemerintah untuk mewujudkan Making Indonesia 4.0, lanjutnya, diharapkan Indonesia mampu menjadi salah satu eksportir elektronik dan ponsel pintar dengan pangsa pasar yang semakin meningkat.

Making Indonesia 4.0 merupakan program pemerintah dalam mempersiapkan Indonesia menghadapi era industri digital 4.0 yang difokuskan pada 7 sektor industri yaitu makanan-minuman, tekstil, otomotif, kimia, elektronik, alat kesehatan dan farmasi yang menyumbang 70 persen produk domestik bruto. [PDB] industri, 65 persen ekspor industri, dan 60 persen tenaga kerja industri Indonesia,” pungkas Zulkifli.

Sementara itu, Presiden Direktur PT SEIN Simon Lee menegaskan pihaknya akan terus berinvestasi dengan memperbarui sistem operasional produksi menjadi lebih canggih sehingga mampu meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan domestik dan ekspor.

Selain memperkuat komitmen pemenuhan TKDN, Samsung berupaya meningkatkan ekspor, menciptakan lapangan kerja bagi ratusan anak muda dan mendongkrak surplus neraca perdagangan Indonesia.

“Samsung berkomitmen mendukung pemerintah dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas ekspor di pabrik-pabrik Samsung di Indonesia. Dari 2018 hingga kuartal ketiga 2022, kami telah mengekspor lebih dari 8 juta unit smartphone Samsung Galaxy,” tambah Simon.

Lain cerita, PR Manager Oppo Indonesia, Aryo Meidianto, mengaku belum ada rencana untuk mengekspor perangkat tersebut ke luar negeri meski pabriknya sangat mencukupi untuk itu.

Karena menurutnya, permintaan domestik saat ini masih sangat tinggi sehingga Oppo masih akan lebih fokus memenuhi permintaan domestik.

“Tapi tidak ada kata tidak untuk menjadi eksportir. Sangat mungkin, apalagi untuk kapasitas pabrik ponsel di Indonesia,” ujarnya.

Meski merasa mampu dan mampu menjadi eksportir, ia menilai salah satu tantangannya adalah komunikasi. Menurutnya, komunikasi dua arah harus intens antara produsen dan pengambil kebijakan agar hal itu bisa terwujud dengan mudah.

Dari sisi ekonomi, ekonom Pusat Studi Ekonomi dan Hukum (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan subsektor elektronik memberikan kontribusi 1,4 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) per triwulan II/2022, turun dari 1,53 persen pada triwulan sebelumnya.

Meski harga saat ini turun, lanjutnya, nilai kontribusi industri elektronik pada kuartal yang sama mencapai Rp 68,8 triliun, bahkan lebih tinggi dari industri otomotif.

“Penguatan produksi barang elektronik di dalam negeri, termasuk telepon seluler, sangat berpengaruh terhadap penciptaan lapangan kerja, dan berkontribusi terhadap penerimaan negara,” tambah Bima.


Cek berita dan artikel lainnya di berita Google

Tonton video pilihan di bawah ini:


Konten Premium

Leave a Reply

Your email address will not be published.