Tekno  

Membangun Jiwa Profetik Menuju Masyarakat Beradab (Refleksi Maulid Nabi SAW 1444 H)

Artikel Heri Solehudin
yamaha-nmax

Oleh : Dr. H. Heri Solehudin Atmawidjaja*)

Tragedi Kanjuruhan Malang

Tuntutan masyarakat yang rendah akan kenaikan harga BBM, kekacauan penegakan hukum dan sejumlah masalah sosial lainnya, kami dikejutkan oleh Tragedi Kanjuruhan-Malang yang menewaskan ratusan anak bangsa pecinta sepak bola. Dunia kembali menyoroti permasalahan sepakbola kita, karena sepakbola yang seharusnya menjadi hiburan pemersatu bagi seluruh anak bangsa tiba-tiba berubah menjadi tragedi kemanusiaan, sebuah ironi sejarah yang akan menjadi catatan hitam dalam olahraga kita.

Sepak bola sebenarnya sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan bagi masyarakat Indonesia, mengingat para orang tua muda, besar dan kecil, kaya dan miskin, semua tanpa kecuali dan tanpa hambatan, sama-sama suka berbicara sepak bola. Tapi sayangnya euforia Masyarakat yang begitu besar tidak berbanding lurus dengan perbaikan manajemen sepakbola kita. Manajemen sepakbola di tanah air terkesan ceroboh dan masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan negara-negara pecinta sepakbola lainnya.

Kasus yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang merupakan bukti ketidakprofesionalan manajemen sepakbola, baik dari level PSSI sebagai regulator hingga level panitia pelaksana yang mengabaikan kemungkinan masalah yang terjadi. Pada saat yang sama, aparat keamanan yang seharusnya berfungsi sebagai mediator, bertindak biadab seolah-olah berhadapan dengan musuh negara. Ini adalah potret buram olahraga kita. Stadion Kanjuruhan disulap menjadi kuburan massal, justru oleh pejabat negara yang seharusnya mengayomi dan mengayomi masyarakat. Pendidikan harus dilakukan, tetapi harus dilakukan dengan cara yang baik dan bermartabat, bukan dengan cara biadab seperti yang selama ini dilakukan, agar kita menjadi bangsa yang bermartabat.

Roh Nabi

Bulan ini kita juga bertepatan dengan bulan Maulid yang oleh sebagian besar umat Islam diperingati sebagai hari bersejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Terlepas dari kontroversi maulid, setidaknya kita bisa mengambil pelajaran dari peringatan Maulid Nabi sebagai cermin bagi kita sebagai ummatnya, haruskah kita disebut ummatnya, sudah sejauh mana kita mengikuti jejak dan keutamaan beliau, berapa orangnya. di sekitar kita telah kita selamatkan dari kebodohan dan sebagainya.

Dalam konteks sosial kita saat ini, betapa pentingnya membangun sikap kenabian (sifat, perilaku dan ucapan Nabi) dalam mengawal perjalanan bangsa di masa depan. Kita semua menyadari bahwa Rasulullah memiliki akhlak yang mulia dalam perilaku dan ucapan. Selain itu, Nabi adalah pembebas sosial yang meliputi masalah kekerasan, kebodohan, kemiskinan dan lain-lain. Semangat ini harus ada hari ini dan harus ditumbuhkan terutama di kalangan para pemimpin kita.

Melalui momentum Maulid Nabi, kita jadikan momen untuk meneladani Nabi Muhammad SAW. Jadikan Nabi sebagai panutan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, baik dalam bidang sosial, politik, budaya, ekonomi, dan lain-lain yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad SAW yang kemudian kita kenal dengan “Piagam Madinah”. Nilai ini memiliki implikasi yang sangat mendasar dalam membingkai kelangsungan hidup bangsa kita yang majemuk. Piagam Madinah merupakan contoh nyata bagaimana Islam membangun masyarakat yang adil, makmur dan bermartabat. Salam pembuka.

*)Penulis: Dr. H. Heri Solehudin Atmawidjaja (Pengamat Sosial Politik Pascasarjana Uhamka Jakarta, Wakil Ketua Forum Doktor Sospol UI, Wakil Ketua PDM Kota Depok).

Leave a Reply

Your email address will not be published.