Tekno  

Meski Terjadi Transisi Energi, Industri Migas Masih Belum Terbenam

Bandung: Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan proses transisi energi yang sedang berlangsung telah memperkuat peran industri hulu migas. Karena dalam jangka pendek hulu migas masih menjadi sumber penerimaan negara yang strategis, sedangkan dalam jangka panjang menjadi motor penggerak perekonomian nasional.

“Perubahan peran hulu migas terus memberikan dampak positif lainnya yaitu menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, dan mendukung pertumbuhan kapasitas nasional di pusat dan di daerah. Dengan demikian, industri migas belum memasuki industri sunset,” kata Mamit dalam Media Gathering FGD SKK Migas dan KKKS di Bandung, Selasa, 4 Oktober 2022.

Menurut dia, kebutuhan energi di era transisi masih akan dipasok oleh energi fosil, termasuk minyak dan gas bumi. Proses ke emisi nol bersih pada tahun 2060, menjadikan perjalanan energi baru terbarukan (EBT) dan energi fosil saling melengkapi dan mengisi bauran kebutuhan energi.





Apa pendapat Anda tentang artikel ini?

“Kebutuhan energi yang bersumber dari minyak dan gas terus meningkat. Saat ini Indonesia menjadi net importir minyak sejak 2004,” katanya.

Karena itu, lanjutnya, di era transisi energi, pemerintah terus meningkatkan produksi minyak guna menekan impor. “Jadi, negara memiliki ruang yang lebih luas untuk mengalokasikan pembiayaan energi terbarukan,” katanya.

Mamit menambahkan, industri hulu migas membutuhkan dukungan besar dari berbagai pemangku kepentingan agar kekayaan alam migas dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat sesuai dengan amanat UUD 1945.

Di sisi lain, industri hulu migas dinilai mampu bertransformasi menuju energi yang lebih bersih, dengan menerapkan efisiensi energi dan mengembangkan potensi bisnis. Penyimpanan Penangkap Karbon (CCS)/Pemanfaatan dan Penyimpanan Penangkap Karbon (CCUS) sebagai salah satu teknologi mitigasi pemanasan global dengan mengurangi emisi karbon dioksida ke atmosfer.

Bahkan ke depan, jika bisnis CCS/CCUS menjadi dominan, industri hulu migas akan berubah menjadi industri yang bersih. Hal ini dapat membantu menyerap dan menyimpan karbon dioksida yang dikeluarkan oleh industri lain, seperti industri semen, industri baja, dan lain-lain.

Yang mendesak, jelas Mamit, adalah revisi UU Migas. Peraturan tersebut dinilai dapat melindungi atau menjaga keberlangsungan industri hulu migas dan efek gandanya (efek pengganda).

“Harus ada keinginan politik dari semua sisi. Ada atau tidak ada dalam Prolegnas, karena amanat revisi UU Migas merupakan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Jika setiap kali ada keinginan politikmaka revisi UU Migas bisa dibahas oleh pemerintah dan DPR,” pungkas Mamit.

(HUS)

Leave a Reply

Your email address will not be published.