Tekno  

Perkuat Layanan Pengaduan Konsumen, OJK Luncurkan Layanan Chatbot

Chatbot akan menjadi fitur untuk mendukung OJK dalam memantau konsumen

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan layanan chatbot atau teknologi dukungan pelanggan chatbot. Layanan ini merupakan salah satu inovasi yang bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap industri keuangan digital.


Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan inisiatif tersebut disiapkan untuk membangun ekosistem keuangan digital yang kuat, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.


“OJK berupaya mengoptimalkan teknologi untuk melakukan pengawasan baik dalam rangka pengawasan kehati-hatian maupun dalam rangka pengawasan pasar atau perlindungan konsumen yang dikenal dengan supervisory technology suptech,” ujarnya dalam konferensi pers Hari Inovasi Virtual OJK bertajuk Building Trust in Digital Financial Ecosystem, Senin (10/10/2022). ).


Mahendra menjelaskan, Consumer Support Technology (CST) berupa Chatbot-CST memiliki fitur untuk mendukung OJK dalam memantau dan mendengarkan konsumen di sektor jasa keuangan. Chatbot yang diinisiasi oleh OJK ini merupakan proyek yang dimulai pada tahun 2019 dan didukung oleh Bill Melinda Gates Foundation berupa Technical Assistant dari Microsave Consultant.


Nantinya, layanan chatbot akan menggunakan big data analytics, machine learning, text mining, dan teknologi sejenis lainnya untuk memperkuat pengawasan market conduct, terutama dalam menangani pengaduan dan mengidentifikasi perilaku penyedia jasa keuangan yang berpotensi melanggar prinsip perlindungan konsumen.


“Platform chatbot-CST merupakan one-gate solution dalam hal pengaduan konsumen yang terintegrasi dengan aplikasi OJK seperti WhatsApp, Telegram, LINE, website OJK, media sosial, dan APPK,” ujarnya.


Hal ini sejalan dengan Pasal 29 huruf a Undang-Undang OJK (UU) yang menyatakan bahwa OJK memberikan pelayanan pengaduan konsumen antara lain menyiapkan sarana yang memadai untuk melayani pengaduan konsumen yang dirugikan oleh lembaga jasa keuangan. .


Sementara itu, Dewan Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi menambahkan, layanan ini juga menjadi wadah pengaduan digital masyarakat untuk melaporkan pinjaman online ilegal, serta iklan menyesatkan tentang pinjaman uang yang marak di media sosial. media.


Friderica menilai dengan adanya robot chatbot akan memudahkan kinerja pihak berwenang dalam memantau tindakan para pemberi pinjaman online sehingga menyebarkan iklan yang menyesatkan. Menurutnya, chatbots juga dapat memantau dan mendengarkan keluhan konsumen menggunakan big data analytics untuk memperkuat perilaku pasar dan mengidentifikasi potensi pelanggaran perlindungan konsumen.


“Dan ini bisa memantau percakapan dari media sosial yang membicarakan ini dan itu, sehingga dari perkembangan (pinjaman online dan iklan produk/jasa keuangan) yang ada di masyarakat, pemkot bisa memantau lebih detail,” ujarnya.


OJK juga meluncurkan, pertama, Modul Literasi Keuangan Digital untuk meningkatkan pemahaman konsumen sebelum memilih layanan atau produk keuangan digital. Terakhir, OJK meluncurkan SupTech dan RegTech Capacity Building OJK untuk mempercepat digitalisasi guna mengoptimalkan efektivitas pengawasan dan perizinan terintegrasi berbasis Teknologi Informasi (TI).


Menurutnya, peluncuran ketiga inovasi tersebut dalam rangka meningkatkan perlindungan konsumen, meningkatkan literasi digital konsumen, dan meningkatkan kapasitas pengetahuan pegawai OJK dalam melakukan pengawasan.


“Chatbots dan modul literasi keuangan digital merupakan bukti nyata dari OJK bagi masyarakat dalam memanfaatkan teknologi modern, terutama dalam mengakses data pengaduan nasabah secara real-time dan mengidentifikasi potensi penyimpangan secara akurat serta meyakinkan konsumen bahwa suaranya didengar,” katanya.


Ke depan, OJK akan menjadi role model bagi regulator yang menerapkan teknologi chatbot berbasis Artificial Intelligence (AI), layanan chatbot sebagai asisten virtual dan memiliki berbagai kegunaan dalam meningkatkan perlindungan konsumen.


“Keseluruhan program ini diharapkan dapat meningkatkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap keuangan digital dan berdampak positif bagi eskalasi inklusi keuangan di Indonesia,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.