Tekno  

Piala Dunia 2022, Piala Dunia di Waktu yang Berbeda

Budi Santoso ([email protected])

Murianews, Kudus – Piala Dunia 2022 akan digelar di Qatar pada pekan depan. Edisi 2022 ini, Piala Dunia digelar dengan perubahan waktu yang sangat berbeda. Hal ini konon banyak berpengaruh pada kualitas penyelenggaraan turnamen akbar sepak bola dunia ini.

Jika sebelumnya digelar setelah semua kompetisi di Eropa selesai bergulir, tahun ini pelaksanaannya dilakukan di pertengahan musim liga di Eropa. Soal penentuan waktu penyelenggaraan Piala Dunia, tampaknya hegemoni Eropa di dunia sepak bola sudah mulai dikesampingkan.

Berbagai isu di luar sepakbola juga mengiringi persiapan Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Masalah pelanggaran HAM mengemuka, dalam proses pembangunan infrastruktur.

Banyaknya pekerja migran yang meninggal dalam persiapan Piala Dunia Qatar menjadi sorotan. Hal tersebut memunculkan suara sumbang yang mengiringi Piala Dunia 2022.

Penunjukan Qatar sebagai tuan rumah juga berimplikasi pada isu lain di luar sepak bola. Kebiasaan Barat dalam konteks sepak bola akan menemui hal yang berbeda di Qatar yang menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran.

Situasi ini juga membutuhkan ‘penyesuaian’ dari komunitas sepakbola Eropa yang akan datang ke Qatar. Tidak menutup kemungkinan isu-isu nonsepak bola yang mengiringi Piala Dunia 2022 di Qatar akan menjadi ‘dialektika’ yang masih layak untuk ditunggu.

Piala Dunia, dalam konteks budaya memang merupakan momen besar bagi kehidupan manusia di seluruh dunia. Dengan kondisi yang menyertainya di Piala Dunia 2022, patut ditunggu apakah sepak bola masih bisa mempersatukan dunia.

Kembali pada konteks Piala Dunia 2022 yang akan digelar di tengah kompetisi Eropa yang sedang berlangsung juga akan berdampak. Banyak tanda yang muncul, dengan banyaknya benturan kepentingan antara klub dan timnas yang mengikuti Piala Dunia 2022.

Tak bisa dipungkiri, Eropa adalah kiblat sepakbola dunia. Dari sekian banyak pemain bintang yang bermain di Piala Dunia, sebagian besar berlaga di Eropa. Untuk Piala Dunia 2022, situasi ini telah memecah fokus para pemain.

Di satu sisi para pemain masih harus memikirkan pertandingan dengan klubnya, dan di sisi lain mereka juga harus memikirkan timnasnya masing-masing. Cedera pemain, menjadi ‘hantu menyeramkan’ yang harus dihadapi pemain.

Bahkan Pep Guardiola menilai, Piala Dunia 2022 adalah turnamen yang penuh ‘kegilaan’. Turnamen ini akan berat bagi para pemain. Kebugaran pemain akan menjadi masalah besar.

Tidak menutup kemungkinan para pemain bintang yang akan mengikuti Piala Dunia 2022 ini akan menghadapi kendala terkait kondisi kebugarannya. Selanjutnya akan mempengaruhi permainan individu dan menyebar ke tim.

Di sinilah kemungkinan isu kualitas Piala Dunia 2022 akan terpengaruh. Namun, di sisi lain situasi ini juga akan memberikan peluang bagi tim-tim dari Asia dan Afrika untuk tampil.

Tim-tim dari Asia dan Afrika kebanyakan memiliki basis pemain dari liga non-Eropa. Dari sudut pandang kebugaran pemain, mereka mungkin memiliki kesiapan yang lebih baik. Jumlah pertandingan liga di Asia dan Afrika tentu tidak seramai di Eropa.

Kondisi ini juga memungkinkan adanya kejutan besar. Jika selama ini belum ada yang berani mengatakan bahwa tim-tim dari Asia Afrika bisa memberikan kejutan di Piala Dunia, maka di Piala Dunia 2022 hal ini sangat mungkin terjadi.

Tidak ada salahnya Piala Dunia 2022 berani memikirkan sejarah baru yang mengejutkan. Sebuah tim dari Asia atau Afrika memenangkan Gelar Juara Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah misalnya.

Patut ditunggu untuk melihat apakah itu bisa terjadi di Piala Dunia 2022. Jika selama ini tim-tim Eropa dan Amerika Selatan mendominasi gelar juara dunia, akankah tim-tim dari Asia dan Afrika mampu melakukan hal yang sama.

Piala Dunia 2022, Piala Dunia yang digelar di waktu berbeda. Apakah akan ada hasil yang berbeda dibandingkan dengan Piala Dunia sebelumnya? Mari kita tunggu bersama sambil menikmati secangkir kopi di depan televisi mulai minggu depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.