Tekno  

Polisi Apresiasi Penghapusan Gas Air Mata, TGIPF Tunggu Tersangka Tambahan

Tim Gabungan Pencari Fakta Independen (TGIPF) melakukan penyelidikan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Jumat (7/10/2022). (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/foc)

batampo – Hingga tiga hari setelah diumumkan, PSSI belum memberikan tanggapan resmi atas rekomendasi Tim Pencari Fakta Bersama Independen (TGIPF) atas tragedi Kanjuruhan. Hari ini (17/10), sejumlah pejabat dari federasi sepak bola tanah air benar-benar akan berangkat ke Malaysia untuk bertemu Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).

Seperti diketahui, salah satu poin rekomendasi TGIPF kepada PSSI adalah meminta direksi mengundurkan diri. ”Tidak masalah. Itu hak mereka untuk tidak menanggapi. Mereka mungkin bingung harus berbuat apa,” kata Akmal Marhali, anggota TGIPF Jawa Pos (jaringan batampos.co.id) Tadi malam.

Akmal menjelaskan, TGIPF hanya menyampaikan laporan investigasi dan poin-poin rekomendasi kepada presiden. Selanjutnya, pemerintah akan menindaklanjutinya. ”Kami tidak dalam posisi menekan. Kami hanya memberikan rekomendasi. Pemerintah akan mengeksekusi semuanya nanti. Sekarang tugas masyarakat adalah mengawal rekomendasi tersebut agar bisa diimplementasikan,” ujarnya.

Menurut Akmal, salah satu pihak yang menerapkan rekomendasi TGIPF adalah kepolisian. Korps yang dipimpin Jenderal Listyo Sigit Prabowo itu menyatakan siap menghilangkan gas air mata dalam penyelenggaraan pertandingan sepak bola. ” Polisi yang keren. Ini menjadi momentum bagi polisi untuk memperbaiki citranya. Dan, akan lebih keren jika polisi terus mengembangkan kasus dan menambah daftar tersangka,” kata koordinator Save Our Soccer (SOS).

Akmal berharap semua pihak yang menerima rekomendasi TGIPF dapat melaksanakannya. Termasuk PSSI. Menurutnya, langkah PSSI untuk memajukan sepakbola Indonesia belum terlihat.

”Misalnya terkait SOP pertandingan. Kemudian, komitmen untuk menjalankan semua undang-undang atau peraturan. Juga, jaminan tidak ada lagi korban jiwa dalam sepak bola. Itu belum ada,” jelas Akmal. ”Jika semua itu dilaksanakan, bukan tidak mungkin (moratorium, red) akan dicabut oleh pemerintah,” imbuhnya.

Akmal menyayangkan langkah yang dilakukan PSSI. Dikatakannya, upaya perbaikan pasca tragedi Kanjuruhan belum terlihat, namun PSSI telah menjadwalkan Liga 1 kembali bergulir pada 25 November mendatang. ”Seolah-olah mereka tidak punya rasa tanggung jawab. Yang mereka pikirkan hanyalah bisnis,” kata Akmal.

Di sisi lain, PSSI bergerak sesuai timeline yang telah disusun bersama tim transformasi sepakbola Indonesia. Sesuai agenda, hari ini induk federasi sepak bola Indonesia akan berangkat ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Anggota Komite Eksekutif PSSI Ahmad Riyadh mengungkapkan, tujuan ke Kuala Lumpur adalah untuk menghadiri agenda AFC. ”Yang akan ke sana adalah Ketum, Wakil Sekjen, dan beberapa staf PSSI,” kata pria yang akrab disapa Abah Riyadh itu kepada Jawa Pos melalui pesan singkat kemarin.

Agenda AFC di Kuala Lumpur juga akan dihadiri oleh Presiden FIFA Gianni Infantino. Dalam kesempatan ini, PSSI juga akan membahas semua permasalahan sepak bola Indonesia. Termasuk membahas format ideal untuk melanjutkan kompetisi Liga 1.

”Selasa (18/10), manajemen PSSI kembali ke Indonesia bersama presiden FIFA. Presiden FIFA memang akan berkunjung ke Indonesia,” jelas ketua tim penyidik ​​PSSI atas tragedi Kanjuruhan itu.

Bantuan Sosial untuk Korban Kanjuruhan

Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini memastikan anak-anak korban tragedi Kanjuruhan mendapat bansos. Bantuan tersebut disalurkan dalam bentuk program bantuan sosial untuk anak yatim.

Risma mengatakan, anak-anak yang ditelantarkan oleh ayah dan istri yang ditinggalkan suaminya dalam tragedi Kanjuruhan membutuhkan bantuan khusus. Oleh karena itu, mereka dipastikan terdaftar untuk mendapatkan bantuan. ”Sulit, apalagi ada yang meninggalkan istri dan anaknya yang masih kecil,” ujarnya.

Di sisi lain, pemberian santunan kepada ahli waris korban meninggal dunia telah selesai. Akhir pekan lalu, ia mengunjungi keluarga korban tragedi yang merenggut 132 nyawa di sejumlah daerah. Salah satunya Pasuruan.

Di sana Risma menyerahkan santunan kepada 16 ahli waris. Masing-masing mendapat Rp 15 juta. Keluarga korban yang hadir berasal dari Pasuruan, Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, Probolinggo, dan Jember. Turut hadir 3 orang luka berat yang menerima santunan sebesar Rp. 5 juta dan 4 luka ringan yang mendapat Rp. 2.5 juta. Hingga saat ini, jumlah korban luka masih dalam pendataan.

Selain santunan, Kemensos juga memberikan dukungan psikososial dengan menghadirkan psikolog untuk memulihkan kondisi psikologis keluarga korban. Bantuan tersebut tidak hanya ditujukan untuk para korban di wilayah Malang, tetapi juga wilayah lainnya. ”Bukan hanya Malang yang menderita, tidak hanya di Pasuruan. Kami seluruh Indonesia, bahkan seluruh dunia, turut berbela sungkawa,” ujarnya.

Reporter: JP Group

Leave a Reply

Your email address will not be published.