Tekno  

PR INDONESIA – di luar reputasi

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Namun, baru pada Jumat (16/9/2022), kami berkesempatan mengenal Junanto Herdiawan, Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), lebih dalam. Tak disangka, perbincangan selama 1,5 jam dengan peraih gelar doktor bidang filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta ini begitu menyenangkan.

Melalui Junanto, kita juga mengetahui perjalanan Departemen Komunikasi BI hingga menjadi fungsi manajemen strategis seperti sekarang ini. Ya, pria yang gemar menulis dan telah menerbitkan enam buku ini menjadi saksi sekaligus sosok yang terlibat dalam proses panjang itu. Dia menceritakan Ratna Kartika dan Aisyah Salsabila dari PR INDONESIA.

Apa kabar?

Kabar baik, terima kasih Tuhan. Terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan oleh PR INDONESIA.

Pandemi dan perkembangan teknologi telah mengubah banyak hal, termasuk potensi isu dan krisis. Isu apa yang saat ini sedang dihadapi oleh BI?

Di bank sentral seperti BI, persoalannya adalah membangun kredibilitas.

Menyikapi hal tersebut, kami dari sisi komunikasi berpendapat bahwa BI perlu memiliki strategi komunikasi yang lengkap dan menyeluruh agar tidak terpencar-pencar, reaktif, atau hanya tanggap dan tanggap. Maka, setiap awal bulan, Departemen Komunikasi BI membuat strategi komunikasi yang diterjemahkan ke dalam berbagai taktik komunikasi. Untuk kemudian disalurkan ke saluran komunikasi yang kita miliki. Taktik disesuaikan dengan target audiens. Ada di atas garis, di bawah gariswawancara, pertemuan satu-satuDan seterusnya.

Strategi dan taktik komunikasi kami bertujuan untuk menciptakan komunikasi yang tepat terkait kebijakan yang dikeluarkan oleh BI. Jadi, kami mampu mencapai beberapa hal. Antara lain, pertama, kita mampu mengelola atau membentuk ekspektasi pemangku kepentingan. Ekspektasi ini penting karena kebijakan bank sentral membangun ekspektasi bersama. Kami percaya karena ekspektasi pasar berkorelasi dengan mempengaruhi perilaku orang. Jika ekspektasi salah, sudah pasti kejadian yang di luar keinginan kita akan terjadi.

Misalnya, BI mengeluarkan kebijakan menaikkan suku bunga. Tujuannya, untuk menunjukkan ada tekanan pada inflasi inti dan harga akan naik. Jadi, masyarakat diharapkan berperilaku sama untuk saling menjaga. Artinya, masyarakat tidak lantas terburu-buru menaikkan harga atau memborong semua barang. Dengan membentuk ekspektasi, orang dapat berperilaku seperti yang kita harapkan.

Kedua, membangun literasi dan pendidikan masyarakat. Apalagi di era digital seperti sekarang. Informasi, termasuk hoaks, tumbuh lebih cepat dan lebih luas. Sehingga, minimnya literasi dan pendidikan akan membuat masyarakat mudah terjerumus pada hoaks atau informasi dari sumber yang tidak jelas.

Ketiga, transparansi, keterbukaan dan tanggung jawab. Saat ini sudah ada UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Undang-undang mengatur hal-hal yang perlu disampaikan secara transparan kepada masyarakat sebagai peminta informasi.

Bagaimana mengetahui keberhasilan strategi yang dilakukan Departemen Komunikasi BI selama ini?

Jika kita ingat beberapa waktu lalu, setiap terjadi goncangan, rupiah langsung melemah. Masyarakat pun langsung turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi. Sekarang, kami melihat situasinya relatif lebih stabil. Saat terjadi guncangan, kerusuhan belum tentu terjadi di lapangan, apalagi membuat masyarakat tidak percaya terhadap rupiah.

Saat ini kita melihat bahwa rupiah telah digunakan sebagai mata uang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dulu, kita masih sering menemukan transaksi menggunakan dollar. Bahkan arisan menggunakan dolar. Sekarang, masyarakat sudah cinta dan bangga dengan rupiah. Hal ini menunjukkan bahwa kredibilitas telah dibangun dan kepercayaan publik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.