Tekno  

Satu Sisi Mengklaim Kebenaran | Ide GardaNTT.id

Oleh: Mario Gonzaga Afeanpah

Mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

Desa Haju

Filsuf Jean-Francis Lyotard pernah mengatakan bahwa internet bisa memicu perang baru, yaitu perang informasi. Apa yang dikatakan Lyotard di atas mungkin telah menunjukkan tanda-tanda saat ini ketika internet hadir membawa arus informasi yang merajalela, yang memberikan manusia berbagai informasi dari semua lini kehidupan manusia, mulai dari masalah publik seperti politik, ekonomi, dan hukum hingga pribadi. penting. individu seperti gaya hidup dan hobi. Kehadiran internet memang menjadikan dunia hanya sebuah desa kecil, di mana informasi menyebar begitu cepat dalam hitungan detik. Internet hadir di tengah kehidupan manusia sebagai sebuah realitas baru.

Selain internet sebagai realitas baru, tentunya kita juga tidak boleh mengabaikan peran media massa, baik media cetak maupun media digital, di mana internet juga digunakan sebagai instrumen penting untuk menyebarluaskan berita. Namun, sangat disayangkan terkadang media massa turut andil dalam penyebaran berita bohong. Demi keuntungan ekonomi, misalnya, media mengetahui dan ingin mempublikasikan fakta palsu untuk kepentingan pihak-pihak tertentu. Penyampaian pendapat yang tidak etis memang sengaja disebarkan.

Mengingat pernyataan Presiden Jokowi Widodo dalam pidato pengukuhan DPP Partai Hanura, pada 22 Februari 2017, ia mengatakan bahwa demokrasi kita sudah keterlaluan. Menurut saya, pernyataan presiden itu sudah mengacu pada banyaknya informasi yang disebarluaskan oleh media. Kebenaran bukan lagi kriteria utama. Fakta ini perlu menjadi perjuangan baru bagi umat manusia saat ini untuk menentukan sikap dan tindakan yang tepat di tengah lingkungan informasi. Menurut saya, manusia sebenarnya bisa mengamankan diri agar tidak terombang-ambing oleh segala macam informasi yang tidak diketahui kebenarannya. Hal ini didasarkan pada hakikat manusia itu sendiri sebagai makhluk rasional. Dengan akalnya, manusia mampu berpikir kritis dalam menyikapi realitas yang terjadi di sekitarnya, termasuk informasi yang didapat melalui internet.

Dunia dalam Kekuasaan

Dalam ranah filsafat, kita kini memasuki dunia yang ditandai dengan pluralitas dalam segala aspek, termasuk cara berpikir manusia. Era ini disebut periode postmodernisme yang hadir sebagai bentuk kritik terhadap era sebelumnya, yaitu era modern. Era modern ditandai dengan pemikiran yang terpaku pada pola, aturan atau dogma tertentu seperti rasionalisme, idealisme, empirisme, sentimentalisme, voluntarisme dan lain-lain. Aliran ini hadir dengan metode berpikirnya sendiri dan memutlakkannya sebagai larangan yang harus diikuti oleh setiap orang. Menyikapi hal itu, postmodernisme lahir dengan ciri anti-dogma. Husserl memprakarsai kritik terhadap ilmu pengetahuan modern dalam perspektif filsafat fenomenologis. Beliau menjelaskan pentingnya dunia pra-ilmiah (prescientific word) yang membutuhkan pemahaman tentang integritas kualitas dunia indrawi (Budi Hartanto: Reading Science Materiality Based on Don Ihde’s Philosophy of Technology). Kritik Husserl didasarkan pada modernisme yang sangat menekankan pada pengetahuan objektif dan mengabaikan pengetahuan subjektif.

Menurut saya, salah satu dampak penting dari lahirnya postdernisme adalah kebebasan berekspresi, di mana setiap individu, kelompok atau elemen bebas berekspresi. Mereka tidak lagi terpaku pada ajaran atau dogma tertentu. Kebebasan berekspresi lahir seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Teknologi ini merupakan media yang paling tepat bagi manusia untuk menyampaikan ide. Akibatnya, kebebasan berekspresi yang didukung oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memberikan dampak berupa perluasan informasi yang begitu cepat dalam waktu singkat. Sekarang masalahnya terbalik. Jika di zaman modern ini manusia tunduk pada kekuatan baru yang lahir di era kebebasan ini, yaitu teknologi, termasuk teknologi informasi.

Internet dapat dikatakan sebagai anak biologis postmodernisme. Internet hadir sebagai kritik tidak langsung terhadap tatanan kehidupan masyarakat modern yang bertumpu pada metanarasi yang cenderung absolut. Selama di internet setiap orang bebas mengekspresikan diri, mengekspresikan keyakinan pribadinya dengan jelas tanpa tekanan apapun. Bahkan, itu “reaksioner”. Disini terlihat jelas bagaimana media hadir sebagai penentu kebenaran melalui informasi yang belum tentu benar. Realitas era post-truth ditandai dengan arus informasi yang meluas dan merajalela. Komunitas global tampaknya terombang-ambing oleh arus ini. Arus ini hadir sebagai penentu langkah kehidupan manusia, penentu kebenaran.

Budaya Berpikir Kritis

Max Horkheimer dalam mencetuskan teori kritis, misalnya, menetapkan tujuan teori kritisnya, yaitu memberikan kesadaran untuk membebaskan manusia dari masyarakat irasional dan dengan demikian juga memberikan kesadaran bagi perkembangan masyarakat rasional di mana manusia dapat memenuhi segala kebutuhan dan kemampuannya. (Sindhunata: Dilema Usaha Rasional Manusia). Jadi, teori kritis ingin membebaskan masyarakat dari keadaan irasionalnya saat ini. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa teori kritis akan menjadi teori emansipatoris karena sifat dan karakteristiknya, termasuk curiga dan kritis terhadap masyarakat. Sikap curiga dan kritis ini perlu dimaknai secara positif. Kita tidak bisa begitu saja menerima kenyataan sebagai sesuatu yang mutlak benar. Di sisi lain, juga tidak dibenarkan bahwa kita memaksakan keyakinan atau kehendak kita kepada orang lain dan menuntut mereka untuk menerimanya sebagai kebenaran mutlak.

Teori kritis ini diciptakan sebagai upaya untuk melakukan perubahan dalam masyarakat. Teori ini didasarkan pada aktivitas kritis yang menentang dan terlibat dalam perjuangan sosial dan memandang teori dan praktik sebagai satu kesatuan. Kritik dalam konteks ini adalah untuk melakukan koreksi terhadap praktik-praktik penindasan dan eksploitasi serta untuk memperjuangkan masyarakat menuju situasi yang lebih adil. Saat ini juga muncul aliran post-strukturalisme yang berupaya membongkar relasi kuasa di mana terjadi dominasi media yang tidak adil. Apa yang ditampilkan media adalah realitas semu, dan merupakan pertarungan kepentingan.

Dari uraian singkat teori kritis di atas, saya menawarkan pilihan berpikir kritis sebagai salah satu tindakan penting yang dilakukan dalam merespon penyebaran arus informasi. Saya akan mencoba mengangkat pandangan beberapa filosof mengenai penggunaan akal secara benar dalam menghadapi problematika kehidupan yang dialami.

Akal merupakan ‘kekhususan’ yang dimiliki manusia dan membedakannya dengan makhluk hidup lainnya. Bagi Aristoteles, filosof besar Barat Kuno, kita harus membangun kekuatan intelektual dan etika yang memungkinkan kita memberikan arah yang tepat bagi hidup kita. Dalam bahasa Aristoteles: kita harus menetapkan kebajikan yang sesuai. Mengenai kebajikan, ia membedakan dua jenis kebajikan: kebajikan berpikir dan kebajikan bertindak. Saya memfokuskan diskusi pada keutamaan berpikir. Ada lima kebajikan intelektual dalam kaitannya dengan berpikir yaitu, kebijaksanaan atau kebijaksanaan shopia, episteme, nous, phronesis (wawasan penuh perhatian), teknik (keterampilan praktis) dari lima ini phronesis adalah kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari, dalam arti perilaku bijaksana, kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi dengan bijaksana. Fronesis (praxis kebijaksanaan) adalah kebijaksanaan manusia dalam bertindak. Apa yang khas bagi manusia adalah bahwa tindakannya tidak dapat dipastikan dengan ilmu pengetahuan. Di sini pertimbangan yang dimaksud tentu mengacu pada aktivitas berpikir itu sendiri. Orang yang berpikir baik juga akan bertindak bijaksana atau sebaliknya (Franz Magnis Suseno: Menjadi Manusia Belajar dari Aristoteles).

Salah satu filosof modern yang secara khusus merefleksikan manusia sebagai makhluk berakal adalah Hannah Arrendt. Refleksi berangkat dari acara Holocaut melibatkan Jenderal Eichman. Di pengadilan di hadapan hakim, Eichman terus-menerus mengatakan bahwa sesuai dengan sistem internal partai Nazi yang berkuasa saat itu, dia merasa tidak melakukan kesalahan. Apa yang dituduhkan kepadanya bukanlah kejahatan. Dengan kata lain, dia berpendapat bahwa dia menjalankan perintah dari atasan. Ketaatan atau ketaatan Eichman, menurut Arrendt, merupakan kebajikan yang disalahgunakan oleh para pemimpin Nazi. Dian mengatakan, apa yang dilakukan semata-mata merupakan kekuatan partai. Pada titik ini ada harapan dan pilihan pribadi. Tapi justru di sinilah letak kesalahannya. Ketaatan buta atau tidak kritis adalah sumber kesalahannya dan karena itu dia sebenarnya adalah korban. Pembelaannya berpusat pada hakim bahwa dia, seperti kebanyakan orang lain, hanya ‘gigi‘ (roda gigi) dalam sistem birokrasi Hitler, sistem totaliter. Arrendt menilai dirinya bersalah atas ketidakmampuan atau kegagalannya untuk berpikir kritis dan mandiri. Untuk itu, menurut Arrendt, Eichman adalah contoh orang yang tercerabut dari individualitasnya sebagai orang yang bebas dan mampu berpikir. Bagi Arrendt, Eichman dalam bertindak mengabaikan pikirannya sendiri yang sebenarnya mampu digunakan untuk berpikir kritis (Yosef Keladu Koten: Banalitas Tindak Pidana Korupsi dsebuah Aktivitas Berpikir).

Dengan esensi dasarnya sebagai makhluk cerdas, ternyata manusia memiliki kemampuan untuk menentukan pilihannya sendiri. Terhadap informasi yang diterima, ternyata manusia juga dapat memilah apa yang benar-benar berguna bagi kehidupannya. Inilah kebijaksanaan phronesis harus tumbuh. Kita harus bisa bernalar dengan segala informasi yang didapat agar kita tidak bertindak atas informasi yang salah, yang diberikan oleh media informasi. Bahkan jika kita telah jatuh ke dalam kesalahan, kita dapat belajar untuk tidak jatuh lagi seperti yang dikatakan Aristoteles bahwa kebijaksanaan diperoleh dengan belajar dari pengalaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published.