Tekno  

Sepak Bola, Agama dan Bencana Kemanusiaan

Sepak Bola, Agama dan Bencana Kemanusiaan

Sepak bola adalah salah satu olahraga paling populer di dunia. Semua orang bisa bermain dan bisa menikmati. Tak hanya suporter, sepak bola telah menciptakan komunitas suporter yang menunjukkan loyalitas dan kebanggaan terhadap tim yang dibelanya. Tanpa disadari, sepak bola memiliki banyak pengikut layaknya sebuah agama. Ada nilai ketaatan dan loyalitas bahkan pertahanan yang gigih dari tim yang dibelanya.

Kesetiaan dan ketaatan dalam olahraga ini bisa dilihat setiap akhir pekan saat diadakan pertandingan sepak bola, akan banyak orang yang datang seperti ritual mingguan. Simbol identitas dan kebersamaan meluap dan fanatisme tak terelakkan. Legenda sepak bola Argentina, Diego Maradona, pernah mengeluarkan a penyataan itu “Sepak bola bukanlah permainan, atau olahraga; itu agama”.

Sepak bola memang sudah memenuhi syarat untuk disebut sebagai sebuah keyakinan. Ada tokoh yang bersifat pemujaan, ada ritual yang rutin dilakukan seperti fans yang selalu datang setiap pertandingan, memiliki penganut atau jemaah yang sama sekali tidak memiliki kitab suci, namun setidaknya memiliki aturan dan pedoman yang dibuat oleh lembaga internasional seperti sebagai FIFA yang mengatur semua event game.

Seperti sebuah agama yang memiliki perbedaan pandangan dan penafsiran ajaran serta melahirkan aliran yang berbeda di dalamnya. Sepak bola juga memiliki klub yang berbeda. Para penggemar sebagai manusia, memiliki klub yang bangga sebagai sekte yang mereka dukung karena berbagai alasan.

Pesepakbola juga tentunya memiliki atribut klub kebanggaannya yang digunakan ketika pergi ke tempat pertandingan ritual di stadion dan melakukan ibadah lengkap dengan puja dan semua yang mereka korbankan yang juga merupakan bentuk ketaatan mereka. Harga tiket bukan alasan, bahkan ada yang mengajak keluarga dan teman dekatnya untuk datang menonton.

Seperti halnya agama, sepak bola sebenarnya bisa menyatukan banyak orang. Cinta satu tim bisa menyatukan mereka yang berbeda dalam satu ritual dan kesetiaan. Bahkan loyalitas tidak terbatas pada negara. Mereka yang menyukai tim dari luar negeri tampaknya memiliki loyalitas dan kebanggaan yang sama dengan suporter lain dari berbagai negara. Toleransi, solidaritas, kepedulian dan semangat bersama mengikat para pendukung seperti persaudaraan dalam agama.

Namun, ketika fanatisme dalam mendukung terlalu banyak, sepak bola bisa menjadi malapetaka. Begitu juga dalam sepak bola. Ketika mereka merasa bahwa tim yang mereka pertahankan telah kalah dan mereka tidak menerimanya, mereka mungkin terlihat ingin membela tim mereka dengan cara yang salah. Padahal, pertahanan mereka tidak akan mengubah apa yang terjadi di lapangan. Seolah-olah hidup tidak berharga ketika harus mempertahankan sesuatu yang ingin Anda pertahankan. Tentu saja ini menjadi masalah.

Begitu juga dalam agama. Ketika fanatisme melanda, umat beragama merasa seolah-olah mempertaruhkan diri untuk membela Tuhan. Mereka turun ke jalan mempertaruhkan hidup mereka seolah-olah membela panji-panji Tuhan. Tidak jarang umat beragama mengorbankan nyawanya dengan cara yang salah karena telah diselubungi doktrin fanatisme.

Namun, baik sepakbola maupun agama memiliki nilai untuk dipersatukan. Masalah fanatisme dan kekerasan yang muncul merupakan anomali nilai yang sebenarnya. Sepak bola juga mengajarkan tentang sportivitas, kejujuran, toleransi, saling memaafkan, dan selalu mengumandangkan nilai-nilai kemanusiaan. Banyak pertandingan amal untuk penanggulangan bencana, semangat sportifitas dan semangat perdamaian.

Dalam sepak bola terdapat tradisi yang ditanamkan dalam setiap pertandingan yaitu saling memaafkan dengan berjabat tangan ketika melakukan kesalahan (dosa) seperti kesalahan dalam melanggar lawan, melempar bola saat lawan tidak berdaya karena salah satu pemainnya cedera. Sayangnya, nilai-nilai positif tersebut tidak bisa ditransmisikan menjadi nilai-nilai yang bisa dipegang teguh di luar lapangan.

Begitu juga dalam agama. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Ajaran agama adalah tentang nilai-nilai universal perdamaian, kerukunan, toleransi dan kebajikan. Namun, nilai-nilai tersebut seringkali dilupakan ketika membran fanatisme buta menyelimuti masyarakat. Umat ​​beragama seolah-olah bertindak secara religius untuk membela agama padahal sebenarnya mereka melanggar nilai-nilai kemanusiaan universal yang menjadi ruh dan ruh agama.

Tentunya hal ini harus dikembalikan kepada semangat otentik baik olahraga maupun religi. Olahraga sebenarnya ingin menyehatkan tubuh manusia. Sepak bola juga seharusnya menyuburkan peradaban manusia. Meski sepak bola menghipnotis banyak orang untuk mengidolakan sepak bola, sepak bola juga terbukti menyatukan keragaman perbedaan manusia dari berbagai belahan dunia dalam satu kesatuan. Demikian juga agama harus dikembalikan semangatnya untuk memanusiakan manusia, bukan ingin merusak peradaban manusia.

Di tengah duka tragedi Kanjuruhan, tampaknya semua orang harus menyadari bahwa nyara lebih berharga dari sekedar sepak bola. Kita harus bersama-sama mengembalikan sepak bola ke nilai-nilai aslinya dan tujuan-tujuan yang luhur. Sepak bola tidak salah, hanya saja ada cara pandang terhadap masalah ini yang perlu diluruskan bersama. Tentu ini menjadi evaluasi bersama untuk saling memperbaiki.

Leave a Reply

Your email address will not be published.