Tekno  

Seperti manusia, tikus juga suka menggaruk

Jakarta, CNN Indonesia

Sifat cerewet dari menggaruk tidak hanya ditemukan di pria. Tikus bahkan orang buta pun bisa malas melakukan hal yang sama.

Melansir Science Alert, kemampuan menggaruk tidak melibatkan proses visual di otak. Artinya, ketika seekor tikus menggaruk kepalanya, tikus terdekat akan melakukan hal yang sama.

Sepintas tampaknya melibatkan kekuatan gaib. Tetapi pada manusia juga, ada sirkuit yang membuat kita ‘melihat’ dan merespons rangsangan visual ketika korteks visual, yang memproses informasi visual, rusak.

Fenomena ini dikenal sebagai penglihatan buta. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa fenomena tersebut didasarkan pada jalur subkortikal yang membawa informasi dari mata ke bagian lain dari otak saat benar-benar melewati korteks visual.

Singkatnya, ini adalah jalan pintas saraf yang memungkinkan seseorang yang benar-benar buta untuk berjalan sambil menghindari rintangan yang tidak mereka sadari.

Nah, proses yang sama juga bisa terjadi pada tikus yang melihat tikus lain menggaruk. Rekaman aktivitas sel otak manusia menyiratkan ‘penularan hingga goresan’ dimulai dengan sel peka cahaya di retina.

Sel-sel ini disebut ipRGC (Intrinsically photosensitive retinal ganglion cells). Sel-sel ini terhubung langsung ke bagian kecil otak yang bertanggung jawab untuk menyebabkan gerakan menggaruk, yang disebut nukleus suprachiasmatic (SCN).

Di masa lalu, para ilmuwan berspekulasi bahwa ipRGC memainkan peran penting dalam penglihatan buta. Meski belum ditentukan.

ipRGC berkontribusi pada visi dalam beberapa cara. Secara umum, sel ipRGC kurang berperan dalam menyediakan gambar visual. Namun, penelitian terbaru pada tikus menunjukkan sebaliknya.

Selama percobaan, para ahli menghentikan pengiriman sinyal ipRGC. Hasilnya, hewan-hewan tersebut tidak lagi rentan terhadap goresan, bahkan ketika para ahli menjaga sistem visual mereka tetap aktif.

Zhou Feng Chen dari University of Washington di St. Louis mengatakan bahwa infeksi gatal pada tikus sangat penting untuk kelangsungan hidup. “Kita manusia juga mengalami penularan, tetapi kami menemukan bahwa pada tikus, tindakan menggaruk dikendalikan melalui cara ‘melihat’ yang tidak diketahui. Artinya, tindakan meniru ini sudah ada sejak lama, sebuah sikap untuk melindungi,” kata Chen.

“Oleh karena itu, kami mengusulkan bahwa ipRGC-SCN-PVT menghasilkan jalur visual yang sebelumnya tidak diketahui, yang dapat diubah untuk gerakan visual yang mengkode isyarat mencolok dari lingkungan dan membuat hewan meniru perilaku serupa sebagai mekanisme antisipatif untuk mengatasi kondisi buruk,” kata Dr. ahli dalam jurnal yang diterbitkan di Cell Reports.

(lth/lth)

[Gambas:Video CNN]



Leave a Reply

Your email address will not be published.