Tekno  

Skema Crowdfunding Diklaim Dorong Penetrasi Internet di Desa

Merdeka.com – Penetrasi fixed broadband di Indonesia masih sangat rendah. Merujuk pada data Bank Dunia 2021, sebagian besar masyarakat negara ini mengakses internet menggunakan perangkat mobile.

Sementara itu, hanya 4 persen dari total penduduk atau 16 persen rumah tangga yang berlangganan fixed broadband. Bahkan berdasarkan data pemerintah, dari 83.218 desa dan kelurahan, masih ada 12.548 desa dan kelurahan yang belum memiliki akses internet cepat.

“Oleh karena itu, Yayasan Internet Indonesia berinisiatif membuat terobosan untuk membantu desa-desa yang belum terkoneksi internet melalui pilot project program 1000 Village Fiberization dengan skema crowdfunding sekuritas,” kata Ketua Yayasan Internet Indonesia Jamalul Izza dalam keterangannya, Senin (17/10).

Jamal melanjutkan, dalam program ini Yayasan Internet Indonesia bekerjasama dengan PT. Fintek Andalan Solusi Teknologi (Fulusm) dan PT. Media Lintas Data (MLD).

“Posisi Yayasan Internet Indonesia dalam program ini adalah sebagai inisiator dan akselerator program bagi perusahaan penyedia layanan internet (ISP) yang membutuhkan dana dari investor untuk melakukan pekerjaan fiberisasi di desa-desa. Dana investor berasal dari usaha patungan yang dikumpulkan melalui platform Fulusme. , ”katanya.

Fulusme adalah platform crowdfunding yang telah terdaftar dan memiliki izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Penyelenggara Penawaran Efek melalui Layanan Urun Dana Berbasis Teknologi Informasi sejak 4 Juli 2022.

Direktur Utama Fulusme, Chris Agustono mengatakan, permasalahan desa yang belum terkoneksi internet harus diselesaikan secara bersama-sama. Oleh karena itu, ia merasa senang bisa berkontribusi dalam upaya baik tersebut.

“Dengan Yayasan Internet Indonesia, kami sebagai perusahaan crowdfunding merasa percaya diri untuk membuka program pendanaan bagi perusahaan ISP yang membutuhkan modal untuk meningkatkan penetrasi internet di desa-desa,” katanya.

Di sisi lain, menurut Direktur MLD Koko Aquarista, permasalahan perusahaan ISP skala UMKM seringkali terbentur masalah pembiayaan. Dibutuhkan banyak uang untuk menyebarkan infrastruktur Fiber to The Home (FTTH). Melalui kerjasama ini, MLD berencana menggelar fiberisasi di beberapa lusin desa secara bertahap, baik di Jawa maupun Sumatera.

“Kami juga mengajak perusahaan ISP lain untuk bersama-sama memanfaatkan peluang besar ini dengan menggarap desa-desa yang belum terkoneksi internet,” jelas Koko.

Leave a Reply

Your email address will not be published.