Tekno  

Teknologi inklusif mudah diserap masyarakat dengan “budaya digital”

tidak hanya hype tentang teknologi baru, tetapi juga bisa berpikir kritis

Jakarta (ANTARA) – Sekretaris Eksekutif Research and Partnership Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada Anisa Pratita Kirana Mantovani mengatakan teknologi inklusif dapat dengan mudah diraih dan diserap oleh orang-orang yang siap dari sisi budaya, yakni etika digital dan budaya digital.

“Inovasi teknologi punya ‘seleksi alam’ sendiri. Seperti pilar literasi digital, ada yang seperti itu etika digital dan budaya digital“Bagaimana inovasi teknologi akan bertahan di suatu negara sesuai dengan budaya masyarakat setempat,” kata Pratita di Jakarta, Rabu.

Lebih lanjut, Pratita mengatakan banyak hal yang mempengaruhi kesiapan adopsi teknologi baru di masyarakat. Misalnya dari kemampuan sosial dan ekonomi masyarakat, hingga bagaimana pemerintah mampu mengcover berbagai regulasi terkait inovasi teknologi tersebut.

“Hal ini diharapkan dapat membuat adopsi teknologi lebih kuat dan dapat digunakan untuk adopsi sesuai dengan kebutuhan mereka. Kita tentu mendorong dan memfasilitasi (adopsi inovasi teknologi), tetapi pada akhirnya juga akan memiliki seleksi tersendiri. ,” dia berkata.

Salah satu inovasi teknologi yang sedang hangat dibicarakan adalah kehadiran Metaverse, yaitu dunia komunitas virtual yang saling terhubung yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi Meta.

Pratita menilai perkembangan Metaverse sebagai komunitas virtual yang menjadi wadah bagi orang-orang untuk berinteraksi dan melakukan aktivitas bersama.

Perkembangan teknologi yang memadukan dunia nyata dan virtual, lanjutnya, perlu didukung dengan peningkatan kapasitas literasi digital masyarakat agar lebih siap mengadopsi Metaverse dalam kehidupan sehari-hari.

“Untuk memanfaatkan teknologi tersebut, kami melihat peningkatan kapasitas literasi digital itu penting, sehingga dapat tercipta ruang digital yang aman dan nyaman untuk digunakan, dan kami berharap teknologi ini dapat memberdayakan masyarakat secara ekonomi dan sosial,” ujar Pratita.

Selain memiliki kemampuan digital dalam pengoperasian dan penggunaan perangkat dan internet, Pratita meyakini bahwa masyarakat Indonesia juga perlu memiliki kemampuan lain (keterampilan lunak) lainnya seperti berpikir kritis (berpikir kritis).

“Kapan teknologi tidak pernah berhenti“Yang bisa kita lakukan adalah membekali masyarakat agar mampu beradaptasi dengan teknologi yang berkembang, tetapi juga harus kritis (dalam menerima inovasi teknologi),” ujarnya.

“Jadi, tidak hanya promosi sensasional tentang teknologi baru, tetapi juga mampu berpikir kritis dalam memanfaatkan teknologi dengan baik agar tidak disalahgunakan,” tambahnya.

Baca juga: UT ubah pembelajaran jarak jauh dengan UT Metaverse

Baca juga: Konser Metaverse Jinan Laetitia Hadir di Game Lokapala

Baca juga: Kovee Gandeng Meligo Hadirkan Teknologi VR Tercanggih di Indonesia

Wartawan: Arnidhya Nur Zhafira
Redaktur: Alviansyah Pasaribu
HAK CIPTA © ANTARA 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published.