Tekno  

Terapkan Integrasi Teknologi dalam Pengolahan Jamur Tiram | Berita Malang Hari Ini | Malang Posco Media

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Tim Dosen Institut Pertanian (IPM) Malang melakukan Pengabdian Kepada Masyarakat yang mengalami kendala dalam pengolahan jamur tiram. Tepatnya di CV Tower Two milik Azhar Alam Islamy di Villa Bukit Sengkaling Landungsari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Usahanya membudidayakan berbagai jenis jamur sejak tahun 2011, termasuk jamur tiram.

Melalui pendanaan dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Masyarakat pada tahun 2022, program pengabdian ini menyediakan teknologi tepat guna untuk mengatasi permasalahan dalam pengolahan jamur tiram di CV Menara Dua.

Tim dosen dari IPM yaitu Muh. Agus Ferdian, STP, M.Si (Ketua), Anisa Zairina S.Si, MP dan Poegoeh Prasetyo rahardjo, S.TP, M.Si (Anggota). Tim ini memberikan solusi berupa pengolahan jamur tiram segar dengan cara blansing untuk menghasilkan jamur tiram dalam kemasan yang lebih awet dan dengan biaya yang minimal.

“Produksi jamur tiram yang dikembangkan oleh Bapak Azhar Alam Islamy sering fluktuatif. Hasil panen rata-rata mencapai 40-60 kg jamur tiram segar/hari. Pemasaran jamur tiram banyak diserap oleh produsen jamur crispy waralaba di wilayah Malang Raya yang memiliki total outlet cabang 44. Selain itu juga didistribusikan di pasar-pasar tradisional sekitar desa Landungsari atau beberapa konsumen yang membeli langsung di lokasi,” jelas Muh. Agus Ferdian, STP, M.Si.

“Permintaan jamur tiram sering mengalami kendala dan kendala seperti pembeli tidak terus menerus mengambil jamur tiram atau juga pada saat hari raya bahkan saat lebaran. Padahal panen jamur tiram dilakukan setiap hari, banyak jamur tiram yang terbuang percuma karena umur simpan jamur tiram cukup mudah rusak setelah dipanen, jamur tiram menjadi berubah warna dan mudah keriput,” lanjutnya.

Karena jamur tiram memiliki umur simpan yang pendek atau cepat rusak, diperkirakan kerugian dalam satu tahun bisa mencapai Rp. 26 juta. Salah satu solusi yang digunakan pemilik CV Menara Dua untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan membuat produk olahan seperti jamur krispi, abon jamur, nugget, sate jamur dan lain-lain.

“Namun hal tersebut tidak berlangsung lama karena tingginya penyerapan biaya, apalagi dengan sistem pemasaran yang sangat kompleks, sehingga solusinya tidak sepenuhnya optimal dalam mengatasi permasalahan yang terjadi,” kata Agus Ferdian yang bersama timnya menyampaikan larutan dengan blansing.

Ia menjelaskan, blansing bertujuan untuk menonaktifkan enzim yang tidak diinginkan yang dapat mengubah warna, tekstur, rasa, dan nilai gizi bahan makanan. Selain itu, dalam pengabdian ini, menurut Agus Ferdian, pihaknya juga memberikan teknologi tepat guna berupa integrasi teknologi Steam Sterilization untuk proses sterilisasi produksi baglok dengan cara blansing melalui pemanasan boiler.

Diharapkan penerapan integrasi teknologi ini mampu menekan biaya produksi dan tidak ada jamur tiram yang terbuang, sehingga semakin meningkatkan kesejahteraan para pengusaha jamur. Khususnya UKM jamur yang dikelola oleh CV Menara Dua milik Azhar Alam Islamy.

Selain dua solusi utama yang diberikan, upaya lain yang dilakukan Tim Dosen IPM adalah memberikan edukasi tentang fungsi kemasan produk yang baik sehingga dapat menarik konsumen untuk lebih tertarik membeli.

Menurut Agus Ferdian, saat ini pengembangan ke arah teknologi IT bagi UMKM dirasa menjadi kebutuhan primer dalam meningkatkan penjualan. Terutama dengan memberikan informasi yang lengkap baik dari profil UMKM maupun penjualan online.

“Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui tahapan kegiatan survey dan wawancara, perancangan dan pembuatan serta pengujian alat. Semua kegiatan tersebut dapat diselesaikan dalam waktu 8 bulan mulai bulan Maret hingga Oktober 2022. Program PKM berupa bantuan alat dan difusi produk berupa blansing jamur tiram mampu memberikan dorongan pemulihan ekonomi, khususnya akibat pandemi Covid 19,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, perbedaan mendasar penggunaan rangkaian alat yang dihasilkan terkait dengan penggunaan energi, khususnya bahan bakar gas LPG yang dibutuhkan dalam satu kali proses. Penggunaan awal produksi sebelum penggunaan alat rangkaian diketahui membutuhkan sebanyak 5-6 tabung gas dan dilakukan sebanyak 7-8 jam.

“Setelah implementasi alat dihasilkan proses produksi membutuhkan 2,5-3 tabung gas hanya dalam waktu 3-4 jam saja. Selain terkait dengan efisiensi energi terutama bahan bakar gas, juga berdampak pada waktu produksi yang lebih efisien. Hal ini diketahui karena panas yang dihasilkan dari boiler lebih optimal dalam memperoleh panas karena memiliki sistem kombinasi antara tabung air dan tabung api yang mempercepat produksi uap panas yang dibutuhkan untuk proses sterilisasi,” tutupnya. (bua/adv)

Leave a Reply

Your email address will not be published.