Tekno  

Tim Liga 3 Mempelajari Sistem Keamanan Stadion dari Komisi Pertandingan AFC

JawaPos.com-Anggota LOC Persedikab Kabupaten Kediri, Sugianto belajar banyak hal baru dalam Workshop LOC dan Petugas Keamanan Liga 3 Zona Jatim kemarin (14/11).

Salah satunya adalah tentang akses keluar masuk pemain dan penonton. Bagaimana sistem yang harus dijalankan agar tidak terjadi penumpukan yang berujung pada kerusuhan dalam sebuah pertandingan.

Ia bersyukur bisa belajar langsung dari Komisioner Pertandingan AFC Ronny Suhatril. Apalagi, dia sempat melihat bagaimana sistem pengamanan di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, dan Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, kemarin.

”Meski sangat sulit jika diterapkan di kandang Persedikab. Namun, kami jadi paham apa yang harus dilakukan demi keamanan pertandingan melalui workshop ini,” ujarnya.

Sugianto merupakan salah satu perwakilan dari sembilan calon tuan rumah Liga Zona 3 Jatim yang hadir dalam Workshop LOC dan Security Officer kemarin. Hanya satu perwakilan yang tidak datang. Yakni, perwakilan dari Persid Jember.

”Besok (hari ini) adalah hari terakhir workshop,” kata Sekretaris Asprov PSSI Jatim Dyan Puspito Rini kepada Jawa Pos kemarin.

Perempuan yang akrab disapa Ririn itu menambahkan, selain memberi pelajaran soal keamanan pertandingan kepada 10 calon tuan rumah Liga 3, PSSI Jatim Asprov sendiri juga banyak mendapat pelajaran.

”Karena ada sesi membagikan kasus juga di antara para peserta. Jadi, kami mendapat banyak informasi yang perlu diperbaiki dalam waktu dekat untuk zona Liga 3 Jatim,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, workshop yang berlangsung selama dua hari itu merupakan bentuk pengamanan yang ideal dalam sebuah pertandingan. Entah itu dari segi kelayakan stadion atau hal terkecil seperti akses jalan.

“Jadi nanti kita paham ada yang bisa disesuaikan, tapi ada yang tidak bisa dihilangkan. Itu yang terpenting bagi kami dan calon tuan rumah,” ujarnya.

Ririn menegaskan penegakan aturan itu sangat penting. Termasuk untuk Liga Zona 3 Jatim yang belum jelas kapan akan digulirkan. Pemahaman ini diharapkan bisa dijadikan tolak ukur panitia pertandingan masing-masing tuan rumah.

”Harus diingatkan. Karena jika terus-terusan dilupakan, ujung-ujungnya akan meledak seperti tragedi Kanjuruhan. Kami tidak ingin itu terjadi lagi,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.