Tekno  

Tragedi Kanjuruhan: Ketua Panpel Arema FC Tuntut Ketua Umum PSSI Bertanggung Jawab

TEMPO.CO, Jakarta – Ketua Panitia Arema FC, Abdul Haris, menuntut Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Mochamad Iriawan bertanggung jawab atas tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 131 orang itu.

Hal itu disampaikan melalui kuasa hukumnya. “Banyak Panpel yang terlibat, itu juga harus bertanggung jawab, terutama Ketua PSSI. Tidak hanya ketika klub ini menang dia memberikan trofi, dia mendapat nama. Jika posisi klub bermasalah, dia bertanggung jawab secara hukum,” kata pengacara Abdul Haris, Sumardhan, di Mapolrestabes Jatim, Surabaya, Selasa.

Menurut Sumardhan, fakta di lapangan Aremania yang banyak orang meninggal dan luka-luka diduga akibat tembakan gas air mata yang dilakukan polisi.

“Kami tidak tahu apakah gas air mata itu murni gas air mata atau ada efek lain ya, itu demi masa depan juga,” katanya.

Menurut dia, jika komponen gas air mata diketahui, bisa menjadi dasar penyidikan lebih lanjut atas kasus tersebut. “Kami ingin melihat kesetaraan hukum dalam menegakkan keadilan. Jika ada pelaku lain, mereka akan diselidiki secara menyeluruh,” katanya.

Sumardhan melanjutkan, “Ingat, Pak Haris pernah meminta negara untuk masalah keamanan, bahkan yang mengeluarkan rekomendasi adalah Kapolres dan Kapolres. Ingat juga pertandingan sudah selesai dan gas air mata ditembakkan bukan saat cocok.”

Tanggapan Ketua PSSI

Sebelumnya, imbauan agar Ketua Umum PSSI
Mochamad Iriawan lengser dari posisinya, disuarakan dengan lantang oleh para pendukung dan netizen. Bahkan kini ada petisi khusus untuk menggugatnya di situs Change.org.
Iriawan sebelumnya menanggapi desakan untuk mundur. Menurutnya, banyak masyarakat (netizen) yang tahu dan tidak tahu tentang regulasi sepakbola, khususnya di Indonesia.

Ia mengatakan jika publik membacanya, tidak akan ada komentar soal tuntutan mundur sebagai Ketua Umum PSSI. “Kalau mereka berkomentar mungkin tidak tahu aturannya, silakan baca aturannya. Bagaimana mau berhubungan dengan saya, setiap pertandingan ada di mana Panpel (panitia penyelenggara kompetisi) harus bertanggung jawab,” kata Iriawan kepada Tempo di Malang, Selasa, 4 Oktober 2022.

Sosok yang akrab disapa Iwan Bule itu mengatakan tidak akan mencampuri urusan teknis, seperti pertemuan dengan polisi dan operator Liga 1 atau PT Liga Indonesia Baru (LIB). “PT LIB juga di luar. Ini semua tanggung jawab Panpel, itu aturannya. Kalau netizen bilang begitu, maaf saya tidak tahu dasarnya apa,” ujarnya.

Tekanan publik dan netizen yang meminta mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI muncul karena tragedi Kanjuruhan. Salah satu desakan datang dari Ketua Indonesia Police Watch (IPW), Sugeng Teguh Santoso.

Sugeng menilai Mochamad Iriawan harus mundur dari jabatannya sebagai bentuk pertanggungjawaban. Pasalnya, insiden yang terjadi di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu malam, 1 Oktober 2022 itu, menjadi peristiwa terburuk dalam persepakbolaan nasional.

Permintaan mundur juga datang dari presiden klub Madura United, Achsanul Qosasi. Dalam laman Twitter-nya, Minggu, 2 September 2022, ia meminta seluruh jajaran manajemen PSSI mundur dari jabatannya. “PSSI harus bertanggung jawab dan semua pengurusnya harus mundur untuk menghormati para korban dan keluarganya,” tulisnya.

Selanjutnya: Agum Gumelar Bela Ketua Umum PSSI

Leave a Reply

Your email address will not be published.