Tekno  

Transisi Energi, Pemerintah Resmi Luncurkan ETM Country Platform

JAKARTA – Pemerintah Indonesia secara resmi meluncurkan Platform Negara Mekanisme Transisi Energi (ETM) untuk mempercepat transisi energi menuju energi baru terbarukan (EBT) untuk mengantisipasi perubahan iklim.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah akan tetap fokus menangani pandemi COVID-19 dan memperkuat pemulihan ekonomi, namun pada saat yang sama berkomitmen pada transisi energi dan ekonomi hijau.

“Kami akan terus mengembangkan transisi yang adil dan terjangkau menuju ekonomi rendah karbon sebagai prioritas nasional kami,” katanya pada Grand Launching Platform Negara Mekanisme Transisi Energi (ETM) di Bali, Senin (14/11).

Pemerintah Indonesia bersama Asian Development Bank (ADB) telah meluncurkan inisiatif ETM pada konferensi COP 26 di Glasgow. Sejak saat itu, Indonesia didukung oleh banyak pihak dalam bantuan teknis.

Setelah melalui penilaian teknis dan diskusi dengan berbagai pemangku kepentingan, Pemerintah telah mengidentifikasi lima belas gigawatt pembangkit listrik tenaga batu bara untuk dipensiunkan lebih awal.

“Kami semua bekerja tanpa henti untuk membangun ETM Country Platform Indonesia. Kerangka kerja ini akan memobilisasi sumber daya keuangan dan dukungan dari mitra internasional, termasuk sektor multilateral, bilateral, filantropis, dan swasta untuk menjadikan ini transisi energi yang adil dan terjangkau,” kata Sri Mulyani.

Baca juga: Bali Kompak So warisan Indonesia Dalam Transisi Energi

PT Sarana Multi Infrastruktur ditunjuk sebagai ETM Country Platform Manager dan national focal point untuk kegiatan ETM. PT SMI akan berkolaborasi dengan PLN, INA, grup domestik dan internasional untuk memobilisasi modal keuangan kompetitif yang signifikan dalam menciptakan transisi energi yang adil dan terjangkau.

PT SMI ikut serta dalam penandatanganan Nota Kesepahaman dengan 14 mitra internasional yang akan membangun momentum ambisi Indonesia dalam pengembangan transisi energi.

“Kita sedang mengukir sejarah. Kalau Indonesia bisa, saya yakin banyak negara berkembang atau bahkan negara maju lainnya bisa melakukannya,” tambah mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Bukan Sekedar Retorika
Bendahara Negara mengatakan, pemerintah harus segera mengambil tindakan tegas untuk mengantisipasi perubahan iklim. Percepatan transisi menuju ekonomi hijau tidak hanya akan melindungi dunia secara global, tetapi khususnya bagi masyarakat Indonesia, dari dampak bencana perubahan iklim.

“Kami tidak bisa hanya berkomitmen dalam retorika, makanya kami bekerja keras membuat rencana yang sangat detail dan itu membutuhkan investasi yang signifikan,” ujar Sri Mulyani.

Ia mengatakan, salah satu hal vital dalam transisi energi adalah memobilisasi pembiayaan dan penanggulangannya menjualkan antara lingkungan dan ekonomi.

Dari sisi pembiayaan, perlu adanya keselarasan aturan investasi global sehingga dapat mendorong investasi dari sektor swasta ke dalam program dan sektor yang menghasilkan penurunan emisi secara optimal.

“Kedengarannya berlawanan dengan intuisi, tetapi yang kita bicarakan adalah bagaimana lembaga, khususnya swasta, lembaga investasi, nirlaba, dan pemerintah dapat berinvestasi dalam pembangkit listrik berkualitas di negara berkembang, tetapi dapat mengurangi emisi apakah itu dalam bentuk teknologi atau melibatkan Pensiun dini,” ujarnya.

Baca juga: RI-IPG Negosiasikan Kerjasama Pendanaan Transisi Energi

Lebih lanjut, Sri Mulyani mengatakan banyak tantangan yang dihadapi dalam peralihan dari bahan bakar fosil ke EBT, antara lain biaya untuk penguatan kapasitas jaringan dan pengintegrasian sebagian energi terbarukan. Pada saat yang sama, volatilitas pasar energi global menciptakan peningkatan risiko serta biaya untuk mendekati bisnis yang bergantung pada bahan bakar fosil.

“Sebagai pembuat kebijakan, kami merasa ada menjualkan ada perbedaan yang jelas antara pragmatisme jangka pendek kita dan komitmen jangka menengah kita,” ujar Sri Mulyani.

Mengatasi tantangan ini membutuhkan kolaborasi besar dan dukungan internasional. Terutama bagi negara berkembang seperti Indonesia dalam teknologi pembiayaan dan manajemen transisi yang terukur dan terencana.

“Itu melampaui retorika, menjadi teknokratis, tetapi juga tantangan teknis yang perlu diatasi. Indonesia tetap fokus dalam mengarungi pandemi pasca covid-19 dan memperkuat pemulihan ekonomi, namun pada saat yang sama terus berkomitmen pada green energy,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.