Tekno  

Trofi yang Diselamatkan di Kotak Sepatu

Piala Dunia selalu menghadirkan kisah tentang tekad dan kemauan yang kuat. Juga drama manusia dan kontroversi.

Pemain legendaris sekaligus pencetak gol pertama Piala Dunia, Lucien Laurent, menceritakan betapa sulitnya situasi dan kondisi yang dihadapi timnas Prancis di Piala Dunia 1930. “Selama 15 hari kami berada di kapal Conte Verde. Kami berlatih panjat tebing dasar dan turun di dek kapal. Pelatih kami tidak pernah mengatakan apapun tentang taktik permainan.”

Tahun 1930 adalah pertama kalinya Piala Dunia sepak bola diadakan. Uruguay, yang merayakan ulang tahun keseratus konstitusi pertama negara itu sekaligus juara sepak bola Olimpiade 1928, terpilih menjadi tuan rumah. Sebenarnya, Italia, Swedia, Belanda, dan Spanyol juga mengajukan diri menjadi penyelenggara. Namun Uruguay yang paling serius, termasuk bersedia menanggung biaya seluruh peserta.

Tiga belas tim ambil bagian: tujuh dari Amerika Selatan, empat dari Eropa, dan dua dari Amerika Utara. Sebagian besar negara Eropa memilih absen karena jarak dari Uruguay. Saat itu, perjalanan yang paling memungkinkan adalah dengan kapal laut yang memakan waktu berhari-hari. Faktanya, pemain seperti Lucien Laurent harus berlatih di geladak kapal.

Dua bulan sebelum turnamen, tidak ada satu pun negara Eropa yang mendaftar. Ketua FIFA Jules Rimet pun turun tangan, dan empat negara sepakat untuk ikut serta, yakni Belgia, Prancis, Rumania, dan Yugoslavia. Semuanya tiba-tiba, bahkan manajer Rumania Constantin Radulescu membujuk para bos perusahaan agar para pemain tetap bisa bekerja setelah kembali dari Piala Dunia.

Semua pertandingan diadakan di ibu kota Uruguay, Montevideo, menggunakan stadion Estadio Centenario, Estadio Pocitos, dan Estadio Parque Central. Dalam pertandingan pertama yang bersejarah, Prancis mengalahkan Meksiko 4-1.

Estadio Centenario memiliki kapasitas 90.000 penonton, dan menjadi tempat berlangsungnya pertandingan final pada 30 Juli 1930. Gelar juara diraih tuan rumah setelah mengalahkan Argentina 4-2.

Meski FIFA menilai penyelenggaraan Piala Dunia cukup sukses, soal wasit menjadi isu sensitif. Ulises Saucedo dari Bolivia juga merupakan pelatih timnas Bolivia. Saat memimpin pertandingan Argentina melawan Meksiko, ia diberikan tiga tendangan penalti. Argentina akhirnya menang 6-3.

Ada pula wasit Brasil, Gilberto de Almeida Rego, yang meniup peluit akhir enam menit lebih awal saat memimpin pertandingan Argentina melawan Prancis. Argentina menang 1-0. Konon, Yugoslavia menolak memainkan laga perebutan tempat ketiga, karena kecewa dengan wasit di laga semifinal melawan Uruguay.

Empat tahun berselang kontroversi kembali menghantui. Kali ini dia menyebut fasisme dan Benito Mussolini. Italia terpilih menjadi tuan rumah kali ini, dan Piala Dunia justru dimanfaatkan oleh Mussolini sebagai alat propaganda. Ia menyediakan anggaran sebesar 35 juta Lira untuk menyelenggarakannya. Suasana politik di Eropa memang sempat mencekam dengan maraknya fasisme di Jerman dan Italia pada era 1930-1940.

Ada 32 negara yang mengikuti kualifikasi yang menghasilkan 16 tim di babak final di Italia. Berbeda dengan Piala Dunia 1930 di Uruguay, Piala Dunia kali ini digelar dengan sistem gugur. Namun sang juara bertahan, Uruguay, menolak ambil bagian sebagai balasan atas penolakan negara-negara Eropa untuk mengikuti Piala Dunia sebelumnya. Tuan rumah Italia akhirnya menjadi juara, setelah menaklukkan Cekoslowakia 2-1.

Indonesia baru saja mengikuti Piala Dunia 1938 di Prancis. Saat itu Indonesia menggunakan nama Hindia Belanda. Dalam debutnya, 5 Juni 1938, Hindia Belanda harus menghadapi lawan tangguh, Hungaria, yang kemudian menjadi juara kedua dalam turnamen tersebut. Berlaga di depan sembilan ribu penonton yang memadati Velodrome Municipal Reims, Hindia Belanda ditaklukkan 0-6 oleh Hungaria. Gol masing-masing dicetak oleh Kohut (menit 14), Toldi (16), Sarosi (25,88), dan Zsengeller (30, 67).

Piala Dunia kali ini digelar di tengah politik dunia yang kian memanas dan menjelang pecahnya perang dunia. Prancis terpilih menjadi tuan rumah, menyisihkan Argentina dan Jerman. Kubu Amerika Selatan kembali kecewa, karena kali ini tidak bisa menjadi tuan rumah. Sepak bola telah menjadi arena kompetitif di Eropa dan Amerika Selatan sejak lama. Uruguay dan Argentina memilih untuk tidak berpartisipasi dalam turnamen ini.

Juara bertahan Italia berpartisipasi secara otomatis sebagai peserta. Dari 16 negara peserta, 13 di antaranya adalah negara Eropa, dua dari Amerika (Brasil dan Kuba), dan Hindia Belanda. Banyaknya peserta dari Eropa membuat piala dunia ini seperti Piala Eropa. Benar saja, negara-negara Eropa mendominasi pertandingan tersebut.

Italia sukses mempertahankan gelarnya dengan meronta-ronta Hungaria 4-2. Bangsa Pizza ini menyimpan trofi ini hingga 12 tahun kemudian. Perang mencegah piala dunia diadakan lagi. Wakil Presiden FIFA dari Italia, Ottorino Barassi, berjasa menyelamatkan trofi ini dengan menyembunyikannya di kotak sepatu di bawah kasurnya selama perang dunia. [wir/but]

Leave a Reply

Your email address will not be published.