Tekno  

Urgensi Regulasi Penonton dan Transformasi Stadion

Memuat…

Selamatkan Dwi Nuryanto. FOTO/DOCK KORAN SINDO

Selamatkan Dwi Nuryanto
Lulusan Universite de Toulouse France, Pendiri SVARA Innovation

Tragedi sepak bola yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur menyebabkan ratusan korban tewas dan luka-luka. Peristiwa yang menjadi perhatian dunia harus diselidiki secara menyeluruh tanpa pandang bulu. Seseorang harus bertanggung jawab atas level teratas.

Akar tragedi sepak bola tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Penyebabnya bersifat multidimensional yang terdiri dari budaya sportifitas yang belum berkembang, diperparah dengan belum adanya regulasi penonton yang memadai dan kondisi stadion sepak bola lama tanpa solusi teknologi terkini.

Memang, solusi masalah keamanan dan keselamatan yang terkait dengan penggemar sepak bola tidak dapat diselesaikan hanya dengan inovasi teknologi atau perubahan manajemen atau model bisnis, seperti penerapan sistem tiket elektronik dan perangkat elektronik lainnya sehingga kondisi stadion dapat dipantau dan dikendalikan. Perlu regulasi yang lebih lengkap. termasuk pendidikan dan penguatan budaya sportifitas antar suporter.

Kita harus mempelajari stadion bertaraf internasional seperti Wembley Stadium yang memiliki bangunan dan infrastruktur modern serta dengan manajemen keamanan yang super sehingga mampu menggelar pertandingan terpanas atau tensi tinggi seperti Tottenham Hotspur melawan Chelsea. Itu bisa terwujud karena ada rekayasa sosial terhadap fans dalam waktu singkat.

Hingga saat ini, kompetisi sepak bola di tanah air belum bisa lepas dari permasalahan klasik seperti jumlah penonton yang terlalu tinggi. kelebihan muatan sehingga menimbulkan potensi bahaya. Bahkan PT Liga Indonesia Baru (LIB) angkat bicara soal praktik penjualan tiket palsu dan adanya suporter yang kerap membawa suar ke stadion.

Contoh kasus penjualan tiket palsu terjadi pada pertandingan Persikabo vs Persija 1973 di Stadion Pakansari Cibinong. Polisi menangkap seorang pria asal Kota Cimahi yang menjual tiket palsu.

LIB saat itu menyatakan bahwa praktik penjualan tiket palsu pada pertandingan Liga 1 sangat merugikan dan merusak sistem tiket. Perlu adanya regulasi yang komprehensif terkait hak-hak penonton, termasuk hak memperoleh asuransi jika terjadi kecelakaan dan kerusuhan di stadion. Sehingga jika penonton cedera atau meninggal dunia, mereka mendapatkan klaim asuransi yang layak.

Ironisnya, peraturan untuk penonton dan stadion selama ini diabaikan. Bahkan Grand Design Olahraga Nasional (DBON) yang dibuat pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga juga kurang memperhatikan regulasi terkait keselamatan masyarakat.

Kondisi sebagian besar stadion di tanah air yang sangat rawan kecelakaan dan huru hara belum diantisipasi dengan baik. Pengerahan sejumlah besar aparat keamanan dari unsur Polri dan TNI untuk mengawal pertandingan sepak bola Liga 1 PSSI dan Liga 2 belum mampu mengatasi kerusuhan dan korban jiwa. Sebaliknya, polisi menggunakan senjata gas air mata, menyebabkan banyak penonton tewas dan terluka.

Leave a Reply

Your email address will not be published.