Tekno  

Viral Gas Air Mata Bikin Mata Merah Seminggu, Cek Fakta

Jakarta, CNN Indonesia

Gambar bola mata korban gas air mata dalam insiden Stadion Kanjuruhan yang viral. Dalam foto yang beredar, bola mata salah satu korban terlihat sangat merah.

Kerusuhan terjadi di Stadion Kanjuruhan setelah Arema FC kalah 2-3 dari tim tamu, Persebaya Surabaya pada laga Liga 1, Sabtu (1/10) malam WIB. Sebanyak 131 orang tewas setelah polisi menembakkan gas air mata ke tribun penonton.

Korban tewas terdesak untuk menghindari gas air mata. Sementara itu, sejumlah penyintas masih merasakan efek gas air mata.

Salah satunya adalah bola mata yang masih berwarna merah. Salah satu netizen yang membagikan kolase foto mata merah korban akibat terkena gas air mata adalah akun @nataliamwijanto.

“Sudah seminggu, kondisi mata korban gas air mata di Kanjuruhan masih merah seperti ini,” kata akun tersebut.

Netizen lain berkomentar bahwa mereka telah terkena gas air mata, tetapi tidak menimbulkan efek yang bertahan lama seperti yang ditunjukkan pada gambar.

“2019 kena gas air mata juga tapi tidak selama ini, hanya satu jam tidak apa-apa,” tulis akun @death_by_luck.

Dikutip Detik.com, Raffi Atha Dziaulhamdi (14), Aremania yang selamat dari Tragedi Kanjuruhan hingga kini matanya merah akibat tembakan gas air mata.

Dalam laga Arema FC melawan Persebaya, Raffi duduk di tribun 10 atau di selatan. Dia menonton bersama kerabat dan teman-temannya pada Sabtu 1 Oktober 2022.

Dia mengaku terkena kepulan gas air mata saat berjalan saat turun dari tribun.

“Kemudian peluit tanda berakhirnya babak kedua dibunyikan. Sekitar 15 menit kemudian saya turun ke tribun. Dalam perjalanan, petugas menembakkan gas air mata dan saya kepulan asap,” kata Raffi saat ditemui detikJatim di rumahnya. Jalan Prof Moh Yamin, Desa Sukoharjo, Klojen, Kota Malang, Minggu (9/10/2022).

Menurut CDC Amerika Serikat, gas air mata bekerja dengan mengiritasi area kontak seperti mata, kulit, hidung dalam beberapa detik setelah terpapar.

Namun efek paparan gas air mata biasanya hanya berlangsung singkat, antara 15-30 menit setelah orang tersebut menjauh dari sumber asap.

Selain itu, tanda dan gejala langsung dari paparan gas air mata menunjukkan mengalami beberapa atau gejala lain seperti iritasi mata yang berlebihan, rasa terbakar, penglihatan kabur dan kemerahan.

Selain itu, paparan jangka panjang atau paparan zat anti huru hara dosis besar, terutama di tempat tertutup, dapat menyebabkan efek parah seperti kebutaan, glaukoma (sakit mata serius yang dapat menyebabkan kebutaan), kematian akibat terbakar di tenggorokan dan paru-paru dan gagal napas. .

Di sisi lain, Mabes Polri mengaku pernah menembakkan gas air mata kadaluarsa saat tragedi Kanjuruhan. Kabag Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan sebagian gas tersebut sudah habis masa berlakunya sejak tahun 2021.

“Ya ada beberapa yang ditemukan ya. Untuk 2021 ada beberapa,” kata Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (10/10).

[Gambas:Video CNN]

(bisa/arh)


Leave a Reply

Your email address will not be published.